“Sang Kebenaran”: Renungan, Selasa 20 April 2021

2
467

Hari biasa Pekan III Paskah (P)

Kis. 7:51 – 8:1a; Mzm. 31:3cd-4,6ab,7b,8a,17,21ab; Yoh. 6:30-35.

Saudara terkasih, kebenaran selalu dicari oleh setiap orang dalam hidup. Dengan kebenaran orang dapat mencapai hidup yang tenteram dan damai. Ketenteraman dan kedamaian yang dicari itu ada dalam kebenaran, sebab itu dibutuhkan sebuah pengorbanan. Artinya, untuk mencapai hidup yang tenteram dan damai kita harus mendekatkan dan mengarahkan diri pada kebenaran. Kendati arah menuju kebenaran itu dipenuhi rintangan dan pengorbanan.

Bacaan pertama mengisahkan Stefanus yang memberi kesaksian tentang Yesus sebagai sebuah kebenaran. Baginya Yesus adalah sang benar. Namun kesaksiannya ini ditentang oleh orang banyak karena ketidakpercayaan mereka akan ajaran Yesus. Orang banyak itu beranggapan bahwa ajaran Yesus bertentangan dengan hukum Taurat. Penolakan itu berujung pada penganiayaan terhadap Stefanus. Oleh karena beriman kepada Yesus sebagai yang benar maka Stefanus mati dianiaya. Kematian Stefanus tentu menggambarkan bagaimana sebuah usaha untuk terarah pada kebenaran itu tidaklah mudah. Usaha itu haruslah disertai dengan iman kepada Yesus bahwa Ia adalah yang benar. Stefanus tahu bahwa konsekuensi dari semua itu adalah kematian. Dan baginya kematian tidak lain merupakan ketenteraman dan kedamaian dalam hidupnya. Hal ini terungkap dalam seruannya “Sungguh, aku melihat langit terbuka dan Anak manusia berdiri di sebelah kanan Allah.”

Kematian Stefanus merupakan tindakan iman yang besar. Kematiannya bertujuan agar orang dapat percaya kepada Yesus. Namun, kesaksian itu tidak dipercayai karena kurangnya iman orang yang ada pada waktu itu. Hal serupa dialami oleh Yesus yang tidak dipercayai ketika memberitakan bahwa Ia adalah utusan Allah. Ketidakpercayaan orang banyak itu tampak pada permintaan tanda oleh mereka. Yesus sesungguhnya adalah tanda kehadiran Allah di tengah-tengah manusia. Yesus juga menegaskan bahwa sebagai utusan yaitu melakukan kehendak Allah agar orang dapat percaya kepada Dia yang telah mengutus-Nya ke dunia. Kehadiran Yesus sesungguhnya membawa kehidupan bagi orang-orang yang haus dan lapar. “Akulah roti hidup” menyatakan sesungguhnya Ia adalah Sang kebenaran itu. Barang siapa datang dan percaya kepada-Nya, dia akan mengalami hidup yang damai dan tenteram

(Fr. Romi Lermatan)

“Sungguh aku melihat langit terbuka dan anak manusia berdiri di sebelah kanan Allah (Kis 7:56)

Marilah berdoa:

Ya Tuhan tambahkanlah iman kami, agar kami rela berkorban demi kemuliaan-Mu seperti St. Stevanus. Amin

2 KOMENTAR

  1. Selamat pagi Frater.Terima kasih renungannya yang sungguh inspiratif, semoga sebagai awam juga tetap menghidupi semangat ekaristi dalam hidupku, amin

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here