Refleksi: ”Meningkatkan Spiritualitas Kaum Berjubah di Masa Pandemi”

0
121

Di tengah masa pandemi Covid-19, pemerintah serta instansi terkait menghimbau kepada semua masyarakat untuk menjalankan “new normal” di mana segala aktivitas dilakukan secara baru. Hal itu juga dilakukan oleh kami para frater dan para pastor yang ada di Seminari Pineleng di mana kami selalu melakukan gerakan “Tiga M”, yakni selalu mencuci tangan, memakai masker dan menjaga jarak dalam melakukan segala kegiatan. Meskipun dunia sedang dilanda pandemi tetapi sebagai kaum berjubah, pandemi ini tidak sekali-kali menghentikan semangat saya untuk selalu bersyukur dan terus menghayati panggilan ini sebagai rahmat yang istimewa dari Tuhan.

Bagaimana bukti bahwa kita (kaum berjubah) bersyukur atas rahmat panggilan yang istimewa ini? Bagi saya pribadi, bukti saya bersyukur atas rahmat yang istimewa ini yakni dengan cara selalu meningkatkan hidup spiritual saya. Sebab bagi saya yang adalah orang terpanggil, spiritualitas adalah poros atau pusat hidup saya sebagai kaum berjubah. Sebagaimana yang dikatakan Paus Yohanes Paulus II di mana ia menegaskan bahwa pembinaan rohani bagi orang beriman, merupakan nilai utama dalam menyatukan pribadi maupun hidup mereka sebagai orang Kristen. Begitu pula dengan saya sebagai kaum berjubah, pembinaan rohani merupakan poros yang menyatukan dan menghidupkan kenyataan pribadi maupun kegiatan saya sebagai orang terpanggil. Spiritualitas juga menjadi prinsip pemersatu dari identitas diri dan kegiatan hidup saya sebagai kaum berjubah.

Sebagai tindakan kongkret yang menjadi bukti bahwa saya menghidupi spiritualitas saya sebagai kaum berjubah ialah saya harus setia dan taat kepada aturan seminari dengan cara bangun tepat waktu, rajin mengikuti misa, rajin berdoa, dan lain lain. Sebab bagi saya, dengan setia dan taat mengikuti segala aturan seminari maka dengan demikian saya telah menghidupi spiritualitas saya sebagai kaum berjubah. Sebagaimana telah ditunjukkan oleh Yesus Sang Guru ilahi di mana Ia taat kepada Bapa dengan melakukan kehendak-Nya. Selain ketaatan, kita juga harus menghayati semangat kemiskinan sebagaimana Yesus yang turun ke dunia dan menjadi miskin agar semua orang menjadi kaya dalam iman.

Selain ketaatan dan kemiskinan, untuk menghidupi spiritualitas sebagai kaum berjubah ialah melalui Ekaristi sebab sumber dan puncak hidup rohani, kita peroleh melalui Ekaristi. Oleh sebab itu jangan sekali-kali kita meninggalkan Ekaristi sebab melalui Ekaristi kita senantiasa diperbaharui dan dikuatkan dalam menjalani rahmat panggilan yang istimewa ini.

(Fr. Rio Rumlus)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here