“Engkaulah Andalanku”: Renungan, Jumat 16 april 2021

0
572

Hari biasa Pekan II Paskah (P)

Kis. 5:34-42; Mzm 27:1,4,13-14; Yoh. 6:1-15

Saudara-saudari yang terkasih, ketika para rasul berada di hadapan mahkamah agama Yahudi untuk diadili, Gamaliel seorang Farisi dan ahli Taurat membuat discerment terhadap kegiatan para rasul ini. Dia meminta sidang diskors dan menyuruh para rasul untuk meninggalkan ruang sidang.

Kesempatan ini digunakan Gamaliel untuk menjelaskan pemikirannya kepada sidang dengan berpatok pada peristiwa masah lalu dan peran Allah dalam peristiwa-peristiwa itu. Dengan bijaksana ia menasehati sidang bahwa sebaiknya para rasul dilepaskan saja. Gamaliel berkata, “Apabila semua maksud dan perbuatan yang dilakukan para rasul karena rencana manusia maka akan lenyap, tetapi kalau maksud dan perbuatan yang mereka lakukan berasal dari Allah maka mereka tidak dapat dilenyapkan bahkan kamu sendiri yang akan melawan Allah”. Konsekuensi pemikiran Gamaliel adalah para rasul dibebaskan. Pemikiran bijaksana Gamaliel ini membuat sidang mahkamah agama mengikutinya. Sekarang pikirkan dan pandanglah hidup pribadi masing-masing, banyak kali semua pemikiran dan pekerjaan kita lebih mengandalkan kekuatan diri dan lupa bahwa semua pekerjaan itu hendaknya dimulai dan diakhiri bersama Tuhan.

Penginjil Yohanes membantu kita untuk mengenal Yesus sebagai makanan roti. Yesus melakukan pengajaran dan mukjizat-mukjizat penyembuhan, sehingga banyak orang takjub dan berbondong-bondong mengikuti-Nya. Karena rasa belas kasih terhadap orang banyak itu, maka Yesus melakukan mukjizat lagi, dengan mengucap syukur atas dua ikan dan lima roti, yang  dapat memberi makan lima ribu orang jumlahnya. Setelah membuat mukjizat ini, Yesus menyingkir karena orang-orang pada waktu itu mau membuat-Nya menjadi raja. Mukjizat penggandaan roti dan ikan ini menjadi penting bukan hanya sebagai mukjizat sebagaimana adanya tetapi menunjukkan bahwa para rasul diajarkan oleh Yesus untuk memberi dari kekurangan yang mereka miliki supaya sesama yang lain bisa hidup dalam kelimpahan.

Bacaan Kitab Suci pada hari ini mengajak kita untuk memahami dua hal ini. Pertama, keberanian untuk terus menerus mewartakan Injil kepada segala bangsa meskipun ada banyak rintangan. Apabila pelayanan dan perutusan ini berasal dari Allah maka akan berhasil. Sebaliknya kalau hanya semata-mata dari manusia maka akan mendapat kegagalan. Maka andalkanlah Tuhan dan lupakanlah dirimu karena anda juga hanya seorang pelayan. Kedua, Yesus Kristus tetap menjadi pusat hidup kita. Dia menjadi pokok pewartaan para rasul, bahwa Yesus sudah bangkit dan Dia juga yang membagi-bagi diri-Nya untuk memuaskan kita dalam perjamuan Ekaristi. Kita pun belajar untuk berbagi dari kekurangan yang kita miliki supaya ada kebahagiaan.

(Redaksi LJ)

“Dia ini adalah benar-benar nabi yang akan datang ke dalam dunia” (Yoh.6:14)

Marilah Berdoa:

Tuhan sertai dan lindungilah langkah kami selalu. Amin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here