“Terang Hidup”: Renungan 14 April 2021

0
571

Hari Biasa Pekan Paskah II

Kis. 5:17-26; Mzm. 34:2-3,4-5,6-7,8-9;Yoh. 3:16-21.

Pernahkah anda kehilangan sesuatu di tempat yang gelap dan mencarinya? Apa yang anda gunakan untuk mencarinya? Pasti anda menggunakan senter atau alat penerang lainnya yang bisa memberikan terang. Mengapa? Karena terang itu membuat segala sesuatu yang tak kelihatan dalam gelap menjadi terlihat. Coba kita bayangkan jika anda tidak menggunakan senter atau alat penerang lainnya saat mencari buah durian di malam hari, pasti yang dapat dilakukannya hanya meraba-raba dengan penuh keraguan akan adanya durian tersebut. Di sana akan banyak bahaya yang akan dialaminya. Seperti bisa saja tangannya terluka akibat durian atau bisa saja anda memegang ular dan dipatok. Pertanyaannya, apa yang dapat dilakukan orang dalam gelap? Ya, bagi saya banyak hal yang dapat dilakukan akan tetapi dengan penuh keraguan dan ketidakpastian. Namun apabila kira melakukan sesuatu dalam terang pasti semua akan dilalui dengan tenang dan dapat menjadi baik.

Bacaan Injil hari ini mengisahkan tentang Allah yang mengaruniakan Putra-Nya yang tunggal kepada manusia sebagai terang hidup. Barang siapa tinggal dalam Yesus sang terang maka akan memperoleh hidup yang kekal, dan barang siapa yang tidak percaya akan terang itu, maka mereka akan dihukum, karena yang tidak dalam terang mereka menyukai kegelapan dengan perbuatan jahat yang tidak berguna, tetapi yang melakukan perbuatan baik berarti mereka yang melakukannya dalam terang Allah.

Dalam bacaan pertama mengisahkan tentang rasul-rasul yang dilepaskan dari penjara. Awalnya para rasul dijebloskan dalam penjara karena sikap iri hati dari Imam Besar dan para pengikutnya. Akan tetapi pada malam hari, seorang malaikat Tuhan datang dan membawa mereka keluar tanpa diketahui oleh seorang pun penjaga penjara di situ. Malaikat Tuhan itu menyuruh para rasul itu pergi ke Bait Allah dan memberitakan tentang Yesus sang Firman Hidup itu. Kemudian saat Imam Besar dan para pengikutnya hendak menghadapkan rasul-rasul itu kepada Mahkamah agama, mereka mengetahui bahwa para rasul itu sudah tidak berada lagi di penjara melainkan berada di Bait Allah sambil mengajar. Lalu kepala penjara dan bawahannya memanggil rasul-rasul itu kembali ke penjara tanpa kekerasan, karena mereka takut dilempari orang banyak.

Sebagai manusia lemah dan berdosa kita seringkali berperilaku tidak pantas seperti Imam Besar dan para pengikutnya. Di mana diri mereka dipenuhi dengan iri hati. Sikap iri hati mereka itu kemudian membuat orang lain menderita. Oleh sebab itu, kita perlu menjadi seperti para Rasul. Meskipun di dalam penjara, mereka tetap hidup dalam terang Tuhan. Hal itu membuat mereka tidak diketahui saat mereka pergi dari penjara itu. Oleh sebab itu, marilah kita semua senantiasa mengandalkan Tuhan dalam kehidupan kita karena dalam Dia kita memperoleh keselamatan. Berjalanlah dalam terang Kristus dan jadilah terang bagi sesama kita.

Fr. Prawian

Sebab barangsiapa berbuat jahat, membenci terang dan tidak datang kepada terang itu, supaya perbuatan-perbuatannya yang jahat itu tidak nampak; tetapi barangsiapa melakukan yang benar, ia datang kepada terang, supaya menjadi nyata, bahwa perbuatan-perbuatannya dilakukan dalam Allah.” Yoh. 3:20-21

Marilah berdoa:

Ya Allah, terangilah hati dan pikiran kami untuk lebiih setia menjalankan perintah-Mu. Amin


 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here