“Kamu adalah Saksi”: Renungan, Kamis 8 April 2021

0
594

Hari Kamis Dalam Oktaf Paskah (P)

Kis. 3:11-26; Mzm. 8:2a,5,6-7,8-9; Luk.24:35-48

Dalam filsafat, kita menemukan paham yang disebut skeptisisme. Aliran ini mau menekankan bahwa untuk memperoleh suatu kebenaran yang pasti, harus terlebih dahulu diragukan. Oleh karena itu, bagi mereka setiap pengalaman atau segala sesuatu yang didengar harus selalu dipertanyakan dan diuji sehingga mendapatkan kebenaran yang pasti.

Bacaan Injil hari ini mengisahkan bagaimana para murid yang meragukan realitas atau kebenaran sejati yang mereka lihat bahkan alami sendiri. Ya, mereka meragukan kebenaran atau fakta bahwa Yesus telah bangkit dan kini menampakkan diri di depan mereka. Sikap ragu mereka tentu berawal dari kisah pahit yang mereka alami bahwa  Yesus atau Mesias harus menderita dan wafat di kayu salib. Pengalaman itu membuat mereka selalu bersembunyi dan tanpa mereka sadar bahwa Yesus pernah mengatakan hal yang sangat penting. Yesus berkata, “ Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga” (Luk. 9:22). Perkataan Yesus berisi suatu proklamasi bahwa segala penderitaan yang Ia alami akan menghantarkan diri-Nya untuk masuk ke dalam kemuliaan. Kemuliaan Yesus melebihi segala sesuatu sehingga mampu mendatangkan damai sejahtera bagi kita semua.

Kemenangan akan kematian dan pembebasan manusia dari dosa adalah kebenaran yang harus kita yakini. Yesus bahkan membuktikan kebenaran kepada para rasul bahwa Ia telah bangkit, dengan cara memperlihatkan segala luka penderitaan di seluruh tubuh-Nya. Ia bukan hanya sekadar berbicara, tetapi juga dengan tindakan mengalahkan semua keraguan mereka. Kita pun yang telah merayakan perayaan Paskah, perayaan kebangkitan Tuhan harus percaya akan cinta Tuhan kepada kita. Anugerah Paskah merupakan suatu bukti bahwa kasih Allah kepada manusia sungguh luar biasa, sehingga ia mengutus anak-Nya yang tunggal untuk menebus dosa kita. Oleh karena itu, perayaan Paskah sudah seharusnya kita rayakan dengan sungguh-sungguh sehingga kita dapat merenungkan segala penderitaan Yesus, merasakan cinta-Nya dan memperbaiki diri kita untuk melanjutkan kasih dan kerahiman Allah dalam pikiran, perkataan dan juga perbuatan kita sehari-hari. Dari semua fakta tersebut, kita tak harus mempertanyakan atau bahkan meragukan kasih Allah. Kita semua adalah saksinya oleh karena itu bersyukurlah.

(Fr. Everest Leftungun)

Kamu adalah saksi dari semuanya ini(Lukas, 13:48)

Marilah Berdoa:

Ya Tuhan, berkatilah dan kuatkanlah kami sehingga mampu menjadi pewarta kasih-Mu bagi setiap orang. Amin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here