“Pengharapan”: Renungan Rabu 7 April 2021

0
671

Hari Rabu dalam Oktaf Paskah (P)

Kis. 3:1-10; Mzm. 105:1-2, 3-4, 6-7,8-9; Luk. 24:13-35

Sebagai mahkluk sosial dan memiliki banyak keterbatasan, maka setiap orang saling bergantung antar satu dengan yang lain, agar bisa saling melengkapi dalam kebutuhan masing-masing. Sebab itu, setiap orang pasti selalu berharap kepada orang lain yang dipercayai untuk bisa ada dan membantu, di saat ia membutuhkannya. Kehidupan seperti inilah yang diinginkan setiap orang. Harapan yang harus dirajut dalam iman dan diwujudnyatakan dalam kasih, tentu tidaklah mudah. Namun pada kenyataannya setiap orang selalu menaruh harapan akan sesuatu yang diinginkan dan bisa mewujudkan keinginan tersebut.

Bacaan pertama hari ini mengisahkan perjumpaan antara Petrus dan Yohanes dengan seorang lumpuh yang diletakkan dekat pintu gerbang Bait Allah. Perjumpaan itu, tentu merupakan perjumpaan secara imanen. Ketika seorang lumpuh mengulurkan tangannya kepada Petrus dan Yohanes dengan berharap bisa mendapatkan sesuatu dari mereka. Petrus tidak memberinya sebuah barang melainkan sesuatu yang lebih. Dengan iman dan kepercayaan akan Yesus, ia dapat menyembuhkan orang lumpuh tersebut. Tentu hal ini merupakan sebuah kebahagiaan dari orang lumpuh itu.

Dalam bacaan Injil, dikisahkan lagi perjumpaan antara dua orang murid dengan Yesus, dalam perjalanan ke Emaus. Dalam perjumpaan itu, kedua murid tersebut merasa sangat kehilangan harapannya setelah Yesus wafat. Mereka berjalan sambil bercakap-cakap. Harapan bahwa Yesus yang merupakan anak Allah, kini telah mati di palang salib dengan tidak berdaya. Tetapi sesudah makan malam bersama di Emaus, sebuah mukjizat terjadi. Iman dan pengharapan terhadap Yesus Kristus, tumbuh kembali ketika mereka melihat Yesus memecahkan roti dan meminum anggur dan ada bersama-sama mereka.

Perjumpaan dengan Yesus memberikan suatu harapan. Bacaan-bacaan hari ini mengajarkan kepada kita untuk terus menaruh harapan kepada Yesus Kristus tanpa harus  merasa ragu dan tidak cepat berputus asa dengan situasi yang dihadapi. Sebab setiap orang yang hidup dalam pengharpan akan kasih dari Yesus, ia akan selalu merasakan sukacita dalam iman yang sejati dalam menjalani hidupnya. Sebab itu, apapun yang terjadi dan bagaimanapun keadaannya, tetaplah teguh, dan teruslah menaruh harapan terhadap Yesus, karena dia akan selalu ada, bahkan di saat situasi sulit pun.

(Fr. Kristianus Batlayeri)

“Bukankah Mesias harus menderita semuanya itu untuk masuk ke dalam kemuliaan-Nya?” (Luk. 24:26)

 

Marilah Berdoa:

Ya Allah, Engkau telah mengutus Putera-Mu ke dunia untuk menebus dosa kami. Sudilah kuatkan iman kami, agar semakin teguh dalam berpengharapan akan cinta dari Putera-Mu. Amin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here