“Pertobatan Sejati”: Renungan, Selasa 2 Maret 2021

0
594

Hari Biasa Pekan II Prapaskah (U)

Yes. 1:10,16-20; Mzm. 50:8-9, 16bc-17,21,23; Mat. 23:1-12.

Pertobatan adalah kata yang lazim sekali didengar. Sejak zaman Perjanjian Lama hingga saat ini selalu terdengar ajakan untuk bertobat; “metanoia”. Pertobatan seperti apa dan bagaimana selalu digaungkan oleh Tuhan melalui para utusan-Nya.

Dalam bacaan pertama, Yesaya menyampaikan Firman Allah kepada bangsa Israel yang bernada mengajak untuk bertobat. Pertobatan yang Yesaya maksudkan pertama-tama ialah harus mendengar Firman Tuhan dan melaksanakannya. Suatu perbuatan akan berlangsung baik jika didahului dengan pendengaran yang baik. Untuk itu seruan pertobatan bagi Israel oleh Yesaya didahului dengan kata “Dengarkanlah”.

Senada dengan seruan Yesaya, dalam bacaan Injil, Yesus mengajar para murid dan orang banyak untuk mendengarkan setiap pengajaran yang disampaikan oleh para ahli Taurat dan orang Farisi tetapi jangan mengikuti perbuatan mereka. Pengajaran Yesus ini tentunya memiliki alasan.  Para Farisi dan ahli Taurat memang mengajarkan yang benar akan tetapi pengajaran mereka tidak didukung dengan perbuatan mereka.

Dari pengajaran Yesus ini tampak bahwa Ia menginginkan agar setiap orang yang berusaha menyampaikan suatu berita kebenaran harus disertai dengan perbuatan yang benar. Perbuatan hendaknya memberi kesaksian dari setiap perkataan atau pengajaran. Ternyata hal itu terbukti dalam diri Yesus. Dia bukan hanya mengajar dengan berbagai kata yang indah, melainkan menyatakanya dalam tindakan-Nya sebagai kesaksian dari Sabda-Nya. Sabda dan karya-Nya menjadi satu kesatuan yang menyalamatkan manusia.

Di dalam keseharian hidup manusia, bagaimanakah sikap pertobatan itu? Apakah hanya dengan mengakui dosa-dosa? Apakah hanya dengan mengulangi doa tobat dalam setiap Misa dan ibadat tanpa penghayatan dalam kehidupan setiap hari? Pertobatan yang sempurna ialah dengan meninggalkan kebiasaan yang cenderung membawa kepada perbuatan dosa dan membaharui hidup dalam Kasih Tuhan.

Manusia sering kali melihat kesalahan orang lain dan berusaha menasihatinya untuk bertobat. Akan tetapi tidak bertanya di dalam diri apakah sudah bertobat lebih dahulu? Ataukah hanya menjadi seorang orator pertobatan namun tidak melaksanakannya? Pertobatan akan terjadi jika setiap  orang memulainya dari dalam diri sendiri. Pertobatan tidak membutuhkan kata yang muluk-muluk melainkan dengan sikap dan tindakan konkret untuk mengubah diri.

(Fr. Alowisius Sormudi)

“Behentilah berbuat jahat, belajarlah berbuat baik”(Yes. 1:16c-17a).

 

Marilah berdoa:

Ya Tuhan, semoga dengan rahmat-Mu kami dapat bertobat dengan sungguh-sungguh bukan hanya dengan kata tetapi juga dengan perbuatan kami. Demi Kristus Tuhan kami. Amin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here