“Murah Hati”: Renungan, Senin 1 Maret 2020

0
584

Hari biasa Pekan II Prapaskah (U)

Dan. 9:4b-10; Mzm. 79:8,9,11,13; Luk. 6:36-38.

Saudara-saudara yang terkasih, murah hati merupakan sikap yang melahirkan perbuatan baik. Ada dua hal yang membuat sehingga seseorang disebut murah hati (generous), yaitu: Pertama, memiliki inisiatif. Orang-orang yang murah hati adalah orang yang memiliki inisiatif untuk menolong orang lain. Mereka memiliki inisiatif terhadap lingkungan dan komunitasnya. Kedua, murah hati muncul dari dorongan untuk menambah sesuatu yang kurang. Bisa dalam bentuk kebaikan bagi orang yang masih berkekurangan atau menambah dari keadaan kurang baik menjadi lebih baik.

Bacaan-bacaan hari ini mengisahkan tentang murah hati. Dalam Injil dikatakan “Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati”. Allah bermurah hati pada setiap orang, menerbitkan mata hari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar. Yesus mengajak kita bersikap murah hati seperti Bapa dan tidak mudah menghakimi sesama. Bukan berarti menutup mata terhadap kesalahan sesama, tetapi kita diimbau untuk tidak munafik: hanya mampu melihat kesalahan sesama, namun enggan mengoreksi diri.

Berbicara tentang kemurahan hati bukan semata-mata berbicara tentang materi saja. Artinya, berlaku murah hati tidak terbatas pada kerelaan berbagi harta milik, namun juga tercermin dalam sikap saling mengasihi, penuh pengertian, toleransi, menerima perbedaan dan saling mengampuni. Semakin kita murah hati, maka semakin banyak pula kita menerima kemurahan dari Allah dan sesama, sebagaimana yang dikatakan oleh Daniel dalam bacaan pertama “pada Tuhan, Allah kami, ada kesayangan dan keampunan”. Kalau kita menyadari bahwa Tuhan telah menyatakan kemurahan hati-Nya yang tak terhingga dan memberikan yang terbaik bagi kita, sudah sepatutnya kita mengikuti jejak-Nya dengan mencerminkan sikap yang sama dengan-Nya.

Realitas mengatakan ada banyak dari kita yang enggan bermurah hati kepada orang lain. Contoh konkretnya ialah masih terdapat di antara kita yang membuang-buang makanan, padahal kita tahu membuang makan merupakan penghinaan kepada orang miskin. Dengan tindakan itu jelas bahwa kita belum bermurah hati kepada sesama. Berkaca dari bacaan-bacaan hari ini, kita diajak untuk mempraktikkan sifat Tuhan itu yakni murah hati dalam kehidupan kita setiap hari dengan cara  saling menghargai satu sama lain. Marilah kita memupuk kemurahan hati seperti yang ditunjukkan oleh Yesus kepada kita tanpa menghakimi dan menghukum.

 (Fr. Pieter Daing Lermatan)

“Hendaklah kamu bermurah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati” (Luk. 6:36).

Marilah berdoa:

Ya Tuhan Allahku, jadikanlah aku pribadi yang bermurah hati seperti hati-Mu. Amin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here