“Persembahan”: Renungan, Minggu 28 Februari 2021

0
829

Hari Minggu Prapaskah II (U)

Kej:22:1-2,9a,10-13,15-18; Mzm. 116:10,15,16-17,18-19; Rm. 8:31b-34; Mrk. 9:2-10.

Ada seorang frater bertugas Natal di sebuah stasi. Umatnya tidak banyak. Tempatnya jauh dari pusat paroki. Pada satu hari, si frater melakukan kunjungan umat. Tibalah dia di rumah seorang nenek. Setelah bercakap-cakap sebentar, sang nenek minta diri untuk mempersiapkan makan siang. Betapa senangnya si frater. Yang tersaji di atas meja yaitu nasi panas dan daging ayam kampung yang baunya mengundang selera. Apalagi, ternyata memang daging ayam itu terasa lezat. Maka makanlah frater itu dengan lahapnya. Selesai makan dan bercakap-cakap sebentar, frater itu minta diri untuk pulang. Dia pulang dengan perasaan senang. Baru keesokan harinya frater tersebut mengetahui dari cerita tuan rumah tempat dia menginap bahwa ayam itu adalah ayam satu-satunya si nenek. Sang frater merasa tersentuh dan kagum dengan pemberian yang luar biasa si nenek. Dia berjanji untuk mengikuti teladan nenek itu: mempersembahkan yang terbaik dari dirinya untuk Tuhan dan sesama.

Mempersembahkan yang terbaik adalah cara dan tindakan Allah. Dengan penuh cinta Tuhan memberikan Putera-Nya yang tunggal. Putera yang amat dikasihi-Nya dipersembahkan untuk kita manusia. Sang Putera juga mempersembahkan seluruh hidup-Nya dengan wafat di kayu salib. Inilah persembahan terbaik dan sempurna, yang mendatangkan keselamatan untuk kita manusia.

Memberi yang terbaik adalah pula cara dan tindakan Abraham. Dia sungguh belajar dari Tuhan sendiri. Dengan penuh iman dia mempersembahkan anaknya, Ishak. Puteranya yang didapatkannya di masa tuanya, karena perintah Tuhan, dipersembahkannya kepada Tuhan. Persembahan Abraham ini menggugah hati Tuhan. Tuhan bersumpah untuk membalas persembahan penuh iman dari Abraham dengan memberkatinya secara berlimpah-limpah dan membuat keturunannya sangat banyak, seperti bintang di langit dan seperti pasir di tepi laut.

Sebagai orang Kristen kita mesti meniru cara dan tindakan Allah. Jangan memberi dari sisa. Jangan pula memberi hanya karena berkelimpahan. Jangan memberi juga dengan terpaksa. Atau untuk mencari pujian yang sia-sia. Sebaliknya, berilah dengan tulus hati. Persembahkanlah yang terbaik. Dari kekurangan sekalipun.

Masa Prapaskah adalah masa untuk berderma. Periode untuk memberi persembahan. Berilah dengan tulus. Entah dari kelimpahan atau pun dari kekurangan. Itulah persembahan yang sejati. Itulah persembahan yang menyentuh hati Allah dan membantu orang lain. Itulah juga persembahan yang mendatangkan berkat berlimpah bagi kita sendiri.

(Pst. Ventje F. Runtulalo, Pr)

“Inilah Anak yang Kukasihi, dengarkanlah Dia !” (Mrk. 9:7).

Marilah berdoa:

Ya Tuhan, berilah kami iman yang teguh dan cinta yang ikhlas, agar kami selalu dapat mempersembahkan yang terbaik dari diri dan hidup kami untuk kemuliaan nama-Mu dan kebaikan sesama. Amin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here