“Jatuh, bangkit lagi”: Renungan, Rabu 24 Februari 2021

0
512

Hari biasa Pekan I Prapaskah (U)

Yun. 3:1-10; Mzm. 51:3-4, 12-13, 18-19; Luk. 11:29-32.

Setiap orang di dunia ini tentunya mengalami atau merasakan jatuh-bangun di dalam kehidupan. Hal ini memiliki banyak arti, baik itu jatuh secara fisik, psikis dan lain sebagainya. Dalam hal beragama, jatuh-bangun biasanya dihubungkan dengan dosa di mana ketika orang berbuat dosa berarti ia mengalami apa yang dinamakan “jatuh”, dan jika dia sadar bahwa yang dilakukannya adalah dosa, maka ia akan bangkit lagi dan kembali kepada Tuhan dengan cara bertobat. Atau dalam kehidupan sehari-hari kita dapat menyaksikan bahwa jika orang melakukan kesalahan kepada orang lain, ia akan segera sadar dan merasa bersalah kemudian meminta maaf. Tetapi ada juga yang tidak ingin meminta maaf walaupun ia yang berbuat salah. Bacaan pertama hari ini menceritakan bahwa Allah ingin menghukum orang-orang Niniwe karena besarnya dosa yang mereka lakukan. Tetapi, ketika Allah mengutus Yunus untuk memberitakan bahwa Allah akan mendatangkan malapetaka, orang-orang Niniwe kemudian merasa bersalah dan kembali kepada Allah dengan cara bertobat.

Allah itu maha pengasih dan penyayang. Ia akan mengampuni kita jika kita mau mengakui segala dosa dan salah saat kita menyakiti hatinya atau saat kita melakukan apa yang tidak layak di hadapan-Nya. Di masa pandemik yang melanda dunia ini, kita harus sadar bahwa mungkin saja banyak dosa yang kita lakukan sehingga virus ini sulit berakhir. Oleh karena itu, mungkin kita bisa berefleksi tentang segala salah yang kita lakukan dan kembali ke jalan yang Tuhan inginkan agar Ia dapat memulihkan dunia ini.

Sebagai orang Kristen sejati, di masa prapaskah ini kita dapat mempersiapkan diri untuk menyambut paskah kristus. Kita harus meninggalkan kebiaasaan-kebiasaan hidup kita yang mungkin tidak berkenan di hadapan Tuhan dan bertobat. Kita telah jatuh tetapi Tuhan Yesus membangunkan kita dan mengangkat kita dan membuat kita menang atas dosa melalui wafat-Nya di kayu salib. Orang-orang Niniwe bertobat karena nubuat Yunus, tetapi kita orang Kristen lebih dari sekadar seorang pemenang karena Kristus yang kita imani lebih dari pada Yunus. Yesus rela mengorbankan nyawa untuk kita umat-Nya. Oleh karena itu, marilah kita bertobat agar Kristus selalu menyertai kita.

(Natalis Kelbulan)

“Orang Niniwe itu bertobat waktu mereka mendengarkan pemberitahuan Yunus, dan sesungguhnya yang ada disini lebih dari pada Yunus” (Luk. 11:32b).

 

Marilah berdoa:

 Ya Tuhan, ajarlah aku untuk mampu memahami apa yang Engkau inginkan. Amin. 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here