“Cover Luar”: Renungan, Sabtu 20 Februari 2021

0
481

Hari Sabtu ses Rabu Abu (U)

Yes. 58:9b-14; Mzm. 86:1-2, 3-4, 5-6; Luk. 5:27-32.

Ada pelbagai macam hal di dunia ini, yang terkadang dinilai oleh manusia dengan keliru. Kekeliruan penilaian ini terjadi akibat dari keterbatasan pengetahuan dan ukuran yang digunakan oleh manusia. Tidak jarang manusia jatuh dalam pernyataan seperti ini: “Hanya melihat dan menilai bagian luar atau cover-nya tetapi bagian intrinsik yang ada dalam pribadinya, tak dapat tepat untuk diketahui”.

Bacaan Injil hari ini dengan jelas mengungkapkan bagaimana penilaian yang kurang tepat selalu digelorakan oleh orang-orang yang terlalu meninggikan diri; itulah orang-orang Farisi. Penilaian yang buruk datang dari orang Farisi terhadap pekerjaan yang dilakukan Lewi dan tindakan mereka makan bersama dengan Yesus.  Lewi adalah pemungut cukai. Dalam tradisi hidup Yahudi, pemungut cukai adalah pekerjaan yang dibenci oleh orang-orang Israel, karena selalu menagih pajak lebih dari yang telah ditetapkan.

Apakah orang Farisi benar karena membenci tindakan Yesus yang makan bersama Lewi? Belum tentu, isi dalam orang Farisi lebih benar dari pada isi dalam orang-orang Lewi. Karena itu Yesus tidak menutup kasihnya. Ia tahu bahwa Lewi yang berdosa itu, merasa ‘sakit’ akibat keberdosaan yang selalu dilakukannya. Ia tahu bahwa dengan datang kepada Yesus, penyakitnya bisa hilang. Yesus menjadi pribadi tidak membenci orang Lewi. Yesus malah membenci dosa yang ada dalam pribadi Lewi. Lewi membutuhkan Yesus untuk mengobati ‘sakit’-nya akibat dosa.

Dalam bacaan pertama, nabi Yesaya menandaskan bahwa mereka yang datang kepada Tuhan akan dituntun oleh-Nya, pun juga memuaskan hati manusia dari tanah yang kering. Tanah kering yang dimaksudkan ialah dosa yang ada dalam diri manusia. Oleh karena itu, Tuhan menjadi satu-satunya pribadi yang mau merangkul kita yang berdosa bahkan menuntun kita di jalan yang benar. Kesalehan yang asli oleh nabi Yesaya tidak tergantung pada apa yang nampak dari luar, tetapi kemauan manusia untuk mampu melaksanakan kehendak Allah yang datang dari hati manusia sendiri.

Semoga diri kita bisa menjadi pribadi-pribadi yang tidak gampang menilai orang lain dari sisi luarnya, tetapi mampu dengan mandiri untuk mengintrospeksi diri, “apakah dalam, kehidupan sehari-hari, saya masih melakukan kebenaran-kebenaran yang menyukakan hati Allah belakangan ini atau tidak?

(Fr. Dirros Pugon)

Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, tetapi orang berdosa, supaya mereka bertobat” (Luk. 5:32).

Marilah Berdoa:

Tuhan, baharuilah aku untuk tidak suka menilai tanpa mengamati orang lain, dan bantulah aku untuk selalu mengikuti kebenaran-Mu selalu. Amin.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here