“Memasuki Perhentian kekal”: Renungan, Jumat 15 Januari 2021

0
332

Hari Biasa (H)

Ibr. 4:1-5,11; Mzm. 78:3-4bc, 6c-7,8; Mrk. 2:1-12.

Dalam Injil hari ini dikisahkan Yesus yang mengajar dan berkarya mulai menarik perhatian banyak orang. Orang-orang yang berkerumun mendengar pengajaran-Nya memiliki aneka macam motivasi. Ada yang ingin disembuhkan, ada yang rindu mendengarkan pengajaran-Nya, ada yang hanya sekadar ingin tahu siapakah Yesus itu, bahkan ada yang sengaja datang hanya untuk mencobai Dia dan berusaha mencari kesalahan-Nya. sekali pun demikian, Yesus mengajar semua orang yang mengerumuni-Nya tanpa memandang motivasi mereka.

Sementara Yesus mengajar ada empat orang menggotong seorang yang lumpuh untuk dibawa kepada Yesus. Mereka berharap Yesus dapat menyembuhkan teman mereka. Akan tetapi kerumunan orang banyak menghalangi mereka untuk masuk dan membawa ke hadapan Yesus temannya yang lumpuh tersebut, namun karena iman empat orang pengusung si lumpuh ini yang sangat besar kepada Yesus, mereka tidak mundur dan menyerah saat menemui hambatan yang ada. Yesus merespon lebih dari yang mereka harapkan. Yesus tidak hanya menyembuhkan si lumpuh melainkan juga mengampuni dosa-dosanya.

Penulis surat Ibrani mengingatkan umat beriman di Ibrani yang sedang dicobai imannya untuk meninggalkan Tuhan, agar mereka tetap bertahan supaya jangan akhirnya ditolak oleh Tuhan. Penulis surat Ibrani mengingatkan harus sepenuhnya percaya pada sabda Tuhan dalam situasi apa pun. Kita boleh memasuki peristirahatan Allah, bila kita percaya akan sabda-Nya. Umat Israel berkhianat, maka tak diperkenankan masuk. Maka jangan sampai di antara kita ada yang jatuh karena batu sandungan tidak-percaya, yang setiap hari kita alami.

Bacaan Injil hari ini dan surat Ibrani menuntun kita untuk masuk peristirahatan kekal. Agar dapat masuk dalam peristirahatan kekal, maka kita harus percaya bahwa Allah akan menyelamatkan, dan saya harus memiliki iman untuk menanggapi terjadinya keselamatan itu. Iman kepada Yesus meliputi usaha dan perjuangan untuk mengupayakan keselamatan, Tuhan melihat, memperhitungkan dan menghargai setiap usaha manusia dalam mengupayakan keselamatan. Tuhan Yesus memberi contoh bagaimana kita juga berperan bagi hidup orang-orang di sekitar kita, keluarga, teman atau pun masyarakat di sekitar kita, agar mengalami perjumpaan pribadi dengan Yesus. Itulah tindakan-tindakan yang harus ada dalam diri setiap umat beriman, agar bisa masuk dalam peristirahatan Allah sebagaimana telah dialami langsung oleh orang lumpuh.

(Fr. Benny Fasak)

“Ketika Yesus melihat iman mereka, berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu: “Hai anak-Ku, dosamu sudah diampuni!” (Mrk. 2:5).

Marilah berdoa:

Bapa, kuserahkan diriku sepenuhnya kepada-Mu. Tuntunlah aku selalu agar dapat masuk dalam peristirahatan-Mu yang kekal. Amin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here