“Jangan Keraskan Hatimu!”: Renungan, Kamis 14 Januari 2021

0
461

Hari Biasa (H)

Ibr. 3:7-14; Mzm. 95:6-7,8-9,10-11; Mrk. 1:40-45.

Orang yang mengeraskan hati adalah orang yang jiwanya masih terikat oleh hawa nafsu duniawi dan materi. Sebab orang yang keras hati sama dengan orang yang sesat dan tidak mengerti jalan Tuhan. Mereka tersesat bukan karena tidak tahu jalan ke rumah tetapi hatinya tersesat, tidak ada terang, tidak ada pegangan, tidak ada tuntunan. Hidup mereka seperti di padang gurun gersang dan berada dalam kegelapan.

Dalam bacaan Injil hari ini, kisah pentahiran si kusta membuktikan bahwa Yesus benar-benar hadir dan mau menyelamatkan siapa saja, tak terkecuali mereka yang terbilang najis dan dibuang sesamanya. Ia selalu tergerak hati-Nya oleh belas kasihan. Gerakan hati yang tulus menghasilkan kebaikan dan kesembuhan. Di lingkungan sekitar kita, seperti tempat kerja, sekolah, kampus atau dalam komunitas religius dan sosial kita. Banyak orang yang mengalami perlakuan seperti yang terjadi pada orang kusta tersebut; dijauhi, dikucilkan, dicemooh, didiamkan, bahkan disingkirkan. Orang yang hidup seperti itu tentu tidak nyaman dan tidak tenteram. Mereka sebenarnya dalam hati juga merasakan kalau engkau mau, sapalah aku.

Maka berkaitan dengan hal tersebut, surat kepada orang Ibrani mau mengingatkan kita untuk tetap waspada, supaya di antara kita jangan terdapat seorang yang hatinya jahat dan tegar hati karena tipu daya dosa. Untuk itu, kita diminta memiliki hati yang baru, hati yang membenci kejahatan dan gemar melakukan kehendak Allah. Ikutilah suara Roh Kudus, yang membawa kita pada kebenaran dan perbuatan kasih. Jangan keraskan hati, tetapi terbukalah pada suara Allah yang hadir dalam diri sesama.

Pengalaman si kusta mengajarkan kepada kita bahwa kekurangan maupun penderitaan yang kita alami, jangan sampai membuat kita menjauh dari Tuhan atau bahkan murtad dari pada-Nya. Kalau kita tidak tuli, tentunya permohonan orang kusta dalam perikop Injil hari ini dapat kita lakukan. Tentu lewat sapaan kepada mereka agar dapat dirasakan sebagai sapaan kasih Tuhan sendiri, bila disertai dengan hati dan kemauan. Kesadaran akan kekurangan dan penderitaan yang kita miliki membantu kita untuk semakin menjadi rendah hati dan terbuka serta tak malu untuk menolong orang di sekitar kita terutama yang ditinggalkan, dikucilkan dan tak diperhatikan.

(Fr. Kostan Tunyanan)

“Hari ini sekiranya kamu mendengar suara-Nya! Janganlah keraskan hatimu” (Mzm. 95:7c-8a).

Marilah berdoa:

Ya Bapa, terangilah hatiku dengan kebenaran Firman-Mu supaya dapat melihat jalan yang Kau kehendaki. Amin.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here