“Allah Dapat Menolong” Renungan , Rabu 13 Januari 2021

0
428

Hari biasa (H)

Ibr. 2:14-18; Mzm. 105:1-2,3-4,6-7, 8-9; Mrk. 1:29-39.

Penderitaan adalah saat di mana manusia menerima ujian dalam hidupnya. Ada banyak definisi tentang penderitaan, namun bagi saya penderitaan itu seperti dua sisi mata uang logam yang berbeda. Di satu sisi itu merugikan; manusia kehilangan hal-hal berharga seperti kesehatan, keluarga, status sosial, pendidikan dan kesempatan bekerja. Tapi di sisi lain, penderitaan itu membuat manusia semakin kuat mempertahankan imannya kepada Allah yang hidup dan benar.

Bacaan-bacaan pada hari ini mengisahkan tema sentral tentang penderitaan dan pertobatan. Paulus dalam bacaan pertama menjernihkan pemahaman jemaat Ibrani untuk percaya bahwa Yesus adalah pemimpin menuju keselamatan. Sebagai pemimpin, Yesus merintis jalan sehingga orang yang mengikuti-Nya juga mendapatkan keselamatan. Sebagai pemimpin menuju keselamatan, Yesus juga mengalami penderitaan bersama manusia (Ibr 2:18). Karena penderitaan dan pencobaan itu, Yesus sepenanggungan dengan manusia (Ibr. 2:14) yang berkonsekuensi pada upaya Yesus untuk mau menolong orang-orang yang berada dalam perhambaan maut (Ibr. 2:15). Ia mau menolong manusia sebab manusia adalah keturunan Abraham yang dikasi Allah (Ibr. 2:16).

Bacaan Injil hari ini mengisahkan tentang penyembuhan terhadap mertua Petrus yang sedang sakit demam (Mrk. 1:31). Bukan hanya mertua Petrus, tetapi juga semua orang sakit (Mrk. 1:34). Peristiwa penyembuhan terhadap mertua Petrus dan orang banyak di kota itu hendak menjelaskan apa bagi kita? Ada dua pokok yang bisa saya refleksikan dari peristiwa ini. Pertama, Yesus turut merasakan penderitaan orang lain. Jika Yesus tidak merasakan penderitaan orang lain tentu Ia tidak akan berkunjung untuk menyembuhkan mereka yang sakit. Kedua, Yesus tidak hanya merasakan, Yesus justru sampai pada tindakan langsung untuk menyembuhkan mereka dari sakit penyakit dan mengusir banyak setan yang merasuki manusia.

Sebagai orang yang beriman kepada Yesus, kita hendaknya tidak merasa bahwa penderitaan adalah akhir dari segalanya. Sebaliknya hendaknya kita percaya bahwa penderitaan adalah saat di mana kita dituntun untuk mengikuti Yesus menuju keselamatan. Apa konkretnya itu? Covid-19 adalah bentuk nyata penderitaan bagi kita manusia. Mari, jangan menutup mata terhadap hal ini, tetap patuhi protokol kesehatan dan serahkan semua kekhawatiran dan kecemasan itu pada Yesus. Yakinlah bahwa Yesus tidak hanya merasakan penderitaan kita. Ia pasti akan bertindak untuk menyembuhkan dan menyelamatkan kita.

(Fr. Salfatoris Duarmas)

 

“Sebab oleh karena Ia sendiri telah menderita karena pencobaan, maka Ia dapat menolong mereka yang dicobai”(Ibr. 2:18).

Marilah berdoa:

Ya Tuhan, mampukanlah kami untuk menyadari bahwa engkau dapat menyelamatkan kami dari penderitaan yang kami alami hari ini. Amin.

 

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here