“Pendorong untuk Memberi”: Renungan, Senin 23 November 2020

0
353

Hari Biasa (H)

Why. 14: 1-3,4b-5; Mzm. 24: 1-2.3-4b.5-6; Luk. 21: 1-4.

Memberi dan menerima adalah hal yang sering dijumpai dalam hidup ini. Banyak orang di dunia ini akan suka menantikan-nantikan pemberian-pemberian dari orang lain. Orang-orang akan sangat senang apabila memperoleh pemberian dari orang lain, dan apa lagi pemberian itu secara sukarela. Akan tetapi ada orang-orang yang memberi selalu mempunyai motivasi yang terselubung, namun ada juga yang memberi dengan ketulusan hati. Ada orang yang memberi untuk memamerkan kekayaannya, ada pula yang memberi demi mencari perhatian, ada juga yang memberi karena ingin membantu orang lain. Intinya semua pemberian itu sangat berharga, namun akan sangat berharga apabila pemberian itu diberikan dengan tulus dan ikhlas serta pengorbanan.

Injil hari ini menceritakan tentang janda miskin yang memberi dengan ketulusan hatinya yaitu seluruh nafkahnya di Bait Allah. Yesus menjadikan janda miskin ini sebagai tokoh yang dapat dijadikan contoh pada kita saat kita memberi. Yesus bukan bermaksud menjadikan orang kaya itu tidak baik ketika memberi. Yesus hanya berkata bahwa janda miskin itu lebih banyak memberi dibandingkan orang kaya. Hal ini tentunya menyangkut kelebihan dan kekurangan. Untuk itu sesungguhnya pemberian yang baik adalah entah berkelebihan atau berkekurangan yang terpenting pemberian itu tulus dan penuh pengorbanan.

Yesus pun telah menunjukan pemberian yang tulus dalam diri-Nya. Dia rela menderita dan wafat di kayu salib demi menebus dosa manusia. Semua itu Yesus lakukan karena cinta-Nya kepada manusia. Maka dari itu pemberian yang paling baik adalah mereka yang dapat memberi dengan ketulusan hati dan juga penuh pengorbanan diri. Inilah menjadi ajaran dan harus bisa diwujudkan dalam kehidupan kita umat manusia, supaya kita semua dapat ditebus dan memperoleh keselamatan bersama dengan Dia.

Pada masa sekarang bagaimanakah kita bisa memberi dengan tulus? Bagaimanakah  kita bisa memberi dengan penuh pengorbanan kepada orang lain? Semua akan bisa menjadi demikian asalkan kita pertama-tama mencintai mereka. Sebab perasaan cinta itu akan menuntun kita pada motivasi untuk memberi dengan tulus dan ikhlas. Perasaan cinta itu juga akan mendorong hati kita untuk dapat memberi seklaipun membutuhkan pengorbanan dari kita.

(Fr. Exel Lorinanto)

“… Janda ini memberi dari kekurangannya, bahkan ia memberi seluruh nafkahnya” (Luk 21: 4b)

Marilah Berdoa:

Tuhan, semoga cinta-Mu dapat menjadi teladanku untuk bisa memberi kepada orang lain. Amin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here