“Iman yang Menyelamatkan”: Renungan, Sabtu 21 November 2020

0
399

Pw  SP Maria Dipersembahkan kepada Allah (P)

Why. 11:4-12; Mzm. 144:1,2,9-10; Luk. 20:27-40

Dalam perjalanan waktu, hidup dan mati adalah satu bagian mutlak yang harus dilalui oleh setiap orang. Manusia lahir dan memulai kehidupan, dan manusia mati setelah menyelesaikan peziarahannya di dunia. Berbicara soal hidup dan mati orang katolik percaya bahwa setelah kematian akan ada kebangkitan dan kehidupan kekal. Saat itulah tidak ada orang yang akan mati lagi melainkan hidup kekal.

Bacaan Injil hari ini berbicara mengenai ketidakpercayaan orang Saduki akan Allah yang membangkitkan manusia setelah kematian. Orang Saduki menyangkal keyakinan itu dan bertanya kepada Yesus mengenai “seorang istri yang mempunyai tujuh suami”. Mereka bertanya, “Siapa yang akan menjadi suami sang istri pada saat kebangkitan?” Pertanyaan ini menunjukkan bahwa ada ketidakpercayaan dalam diri orang-orang Saduki bahwa Allah mampu membangkitkan orang mati. Jawaban Yesus mengalahkan ketidakpercayaan mereka, bahwa dalam kebangkitan, manusia tidak kawin dan tidak dikawinkan, Sebab mereka tidak dapat mati lagi.

Keyakinan dibutuhkan setiap orang sebelum memulai sesuatu. Keyakinan yang besar memberikan sebuah dorongan penuh dalam diri seseorang untuk mengawali langkah dengan baik. Bacaan hari ini ingin menegaskan satu hal penting bagi kita, bahwa keyakinan iman yang besar mampu mengantar kita pada keselamatan. Keyakinan penuh bahwa Yesus yang telah mati di kayu salib dan telah bangkit pada hari yang ketiga, mampu menyelamatkan kita manusia. Keyakinan ini menjadi dasar, pegangan dan harapan serta kekuatan kita. Allah telah menyelamatkan dan memberikan kehidupan yang kekal kepada kita manusia.

Pemazmur hari ini pun memberikan contoh kepercayaan itu, “Terpujilah Tuhan, gunung batuku, yang mengajar tanganku untuk bertempur, dan jari-jariku untuk berperang; yang menjadi tempat perlindunganku dan kubu pertahananku.” Kalimat ini menunjukkan sebuah kepercayaan besar bahwa Allah mampu menyelamatkan. Seperti Bunda Maria yang kita peringati hari ini, Maria mengajarkan kita kepercayaan iman itu, “Aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataan-Mu”. Ungkapan ini menunjukkan keyakinan iman yang besar yang harus dimiliki setiap manusia, yakni menaruh kepercayaan penuh kepada-Nya dan hidup di dalam Dia.

(Fr. Andi Bambi)

“Terpujilah Tuhan, gunung batuku, yang mengajar tanganku untuk bertempur, dan jari-jariku untuk berperang; yang menjadi tempat perlindunganku dan kubu pertahananku, kota bentengku dan penyelamatku, perisaiku dan tempat aku berlindung, yang menundukkan bangsa-bangsa ke bawah kuasaku!” (Mzm. 144:1-2).

Marilah berdoa:

Ya Tuhan, kuatkanlah selalu iman kami agar kami semakin percaya dan taat kepada-Mu yang datang untuk menyelamatkan kami manusia. Amin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here