“Tubuhmu Adalah Bait Sucimu”: Renungan, Jumat 20 November 2020

0
373

Hari Biasa (H)

Why. 10:8-11; Mzm. 119:14,24,72,103,111,131; Luk. 19:45-48.

Setiap orang pasti akan merasa resah bila dekat dengan orang yang kotor dan bau, seperti para pemulung. Seringkali mereka diasingkan dari kehidupan bersama. Akan tetapi penilaian terhadap yang kotor itu hanya bagi mereka yang tidak memiliki kehidupan yang sehat secara jasmani. Tanpa melihat kepribadian dari orang yang dianggap kotor itu.

Pada zaman ini, sesuatu yang dianggap negatif itu lebih sering mendapat perhatian, daripada sesuatu yang positif dan benar. Hal ini tercermin dalam kehidupan para ahli Taurat, yang menilai secara negatif perbuatan Yesus yang mengusir semua pedagang di Bait Allah, seperti yang terdapat dalam Injil. Juga dikatakan bahwa bukan hanya menilai, tetapi mereka berusaha untuk menyingkirkan Yesus dari antara orang banyak, karena merasa risih terhadap perbuatan dan perkataan Yesus. Inilah suatu perbuatan yang dapat kita jumpai dalam masyarakat zaman ini, yang  hanya suka menilai orang lain menurut covernya, tanpa melihat apa yang ada di balik perbuatan orang tersebut.

Dalam Injil diceritakan tentang bagaimana Yesus menyucikan Bait Allah. Ia mengusir para pedagang dan berseru  “Rumah-Ku adalah rumah doa. Tetapi kalian telah menjadikannya sarang penyamun!” Bait Allah itu bagi kita diibaratkan seperti tubuh kita sendiri. Oleh karena itu Yesus mengajak kita untuk tidak menjadikan tubuh kita sebagai sarang penyamun yang selalu menilai orang lain dengan perspektif yang negatif. Kita harus senantiasa berusaha untuk menyucikan diri kita dengan perbuatan dan perkataan yang baik kepada orang lain.

Hal ini pula tercermin dalam bacaan pertama, yang mana Allah berfirman kepada Yohanes untuk mengambil gulungan kitab dan memakannya. “Sebab gulungan kitab itu akan terasa pahit dalam perutmu, tetapi manis dalam mulutmu”. Dengan sabda ini pula Yesus mengajarkan kepada kita untuk tidak hanya berjanji di hadapan Allah, tetapi tidak melakukannya. Maka sebagai umat beriman, marilah kita bertindak seturut janji kita, seperti manisnya janji Tuhan kepada kita dalam reffren mazmur “ Betapa manisnya janji-Mu itu bagi langit-langitku, ya Tuhan.”

(Fr. Dandi Papoto)

“Ada tertulis : Rumah-Ku adalah rumah doa. Tetapi kalian telah menjadikannya sarang penyamun!” (Luk. 19:46).

Marilah berdoa :

Ya Tuhan, mampukanlah kami untuk bertindak seturut janji kami kepada-Mu dan janganlah biarkan kami mengotori bait suci-Mu dengan perbuatan kami. Amin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here