“Kesadaran Diri”: Renungan, Kamis 19 November 2020

0
496

Hari Biasa (H)

Why. 5:1-10; Mzm. 149:1-2,3-4,5-6a,9b; Luk. 19:41-44.

Tidak adanya kesadaran diri dan hati yang tertutup membuat seseorang tidak pernah sadar akan apa yang bakal terjadi dalam kehidupannya. Hati yang tertutup juga membuat seseorang menjadi tidak peka dengan keadaan sekitarnya. Karena itu kerterbukaaan hati sangatlah penting dalam kehidupan.

Injil pada hari ini mengisahkan tentang kesedihan Tuhan Yesus ketika melihat kota Yerusalem. Kesedihan-Nya bukan hanya berlatar belakang pada kehidupan setiap orang berada pada zaman dahulu hingga zaman-Nya. Kehidupan mereka sangat menyimpang dan jauh dari apa yang diajarkan dan diwartakan pada nabi.  Ketika Yesus telah dekat dan melihat kota itu, Dia menangisinya. Kata-Nya: “ Wahai, betapa baiknya jika pada hari ini juga engkau mengerti apa yang perlu untuk damai- sejahteramu ! Tetapi sekarang hal itu tersembunyi bagi matamu.”

Apa yang dikatakan oleh Yesus merupakan sikap rasa belas kasihan melihat mereka yang mendiami kota tersebut hanya menampilkan kejahatan saja, dan tidak bisa  menciptakan kehidupan yang baik dan bersahabat di antara mereka yang tinggal di Yerusalem. Pemimpin agama dan tua-tua masyarakat hidup dalam kepalsuan dengan aturan dan beban yang diberikan kepada rakyat kecil, oleh sebab itu sebelum tiba di kota itu Yesus tahu apa yang sedang terjadi dan akan terjadi dengan Yerusalem nantinya.

Yang dikatakan oleh Tuhan Yesus dan kesedihan-Nya dalam Injil hari ini juga serentak mengajarkan kepada setiap orang akan pentingnya kesadaran diri dengan melakukan apa yang diajarkan oleh-Nya. Dengan kesadaran diri, hati yang terbuka, akan membuat manusia mampu mengetahui bahkan menyadari siapa yang ada atau siapa yang datang di tengah-tengah kehidupannya. Manusia yang beriman juga akan mampu hidup dengan benar serta mampu menciptakan kedamaian ketika dia tidak hidup dalam hasrat manusiawinya.

Oleh karena belaskasihan-Nya Kristus rela masuk ke Yerusalem tempat Dia akan ditangkap, disiksa dan disalibkan demi umat manusia. Akan tetapi tangisan-Nya menjadi sebuah kepedulian-Nya yang luas bagi dunia, yaitu dengan kebangkitan-Nya Kristus menebus dan menyelamatkan manusia dari ketidakpekaannya akan kebenaran dan keselamatan. Dalam Wahyu kepada Yohanes, Kristus menjadi kunci misteri keselamatan bagi umat manusia.

(Fr. Wandilinus Gleko)

“Jangan engkau menangis ! Sesungguhnya, singa dari suku Yehuda, yaitu tunas Daud, telah menang” (Why. 5:5).

Marilah Berdoa:

Ya Tuhan, berilah aku kekuatan agar aku mampu membuka hati dan mampu untuk berbuat kebaikan. Amin

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here