“Kepercayaan”: Renungan, Rabu 18 November 2020

0
518

Hari Biasa (H)

Why. 4:1-11; Mzm. 150:1-2,3-4,5-6; Luk. 19:11-28. 

Dalam membangun sebuah relasi tentu ada baiknya jika hubungan itu dibangun atas dasar saling percaya, Namun hal itu bukanlah sesuatu yang gampang untuk dilakukan, terutama di zaman kita saat ini. Ada begitu banyak hubungan yang justru hancur karena diakibatkan oleh rasa ketidakpercayaan. Misalnya dalam hubungan suami istri, ketika tidak ada lagi kepercayaan satu sama lain maka akan menimbulkan saling curiga yang pada akhirnya dapat mengakibatkan hubungan itu menjadi retak. Sebaliknya apabila hubungan itu dibangun atas dasar saling percaya, maka hubungan itu akan selalu berjalan mulus.

Bacaan Injil hari ini berbicara soal pandangan dan kesetiaan dalam membangun sebuah relasi. Perumpamaan yang diberikan Yesus mengenai kepercayaan dikisahkan dengan cerita seorang bangsawan yang mempercayakan kepada para hamba untuk mengolah hartanya, walaupun dia tau bahwa di antara para hamba itu ada yang berkehendak untuk menjatuhkan-nya. Dalam Injil diceritakan bahwa “akan tetapi orang-orang sebangsanya membenci dia, lalu mengirimkan utusan menyusul dia untuk mengatakan: kami tidak mau orang ini menjadi raja atas kami”. Dari kepercayaan yang diberikan orang bangsawan ini kepada para hambanya memang ada beberapa orang yang melaksanakan tanggung jawab itu dengan baik, namun ada pula orang yang memiliki pandangan buruk terhadap tuannya sehingga segala yang ada padanya diambil semua. Sebaliknya mereka yang menghargai kepercayaan dari tuannya justru mendapatkan hadiah atas usaha mereka.

Kitapun sebagai pengikut Kristus haruslah berusaha untuk selalu melaksanakan tanggung jawab yang sudah Kristus wariskan untuk kita lakukan, seperti melakukan kebaikan, saling menghargai, saling menghormati dan saling mengasihi serta melaksanakan seluruh kehendak-Nya agar kitapun memiliki peluang yang besar untuk menikmati kebahagiaan abadi di surga. Yesus ingin agar hidup kita dalam dunia ini dapat menghasilkan buah yang baik. Apa yang kita peroleh, hendaklah itu dikembangkan sehingga menghasilkan buah yang banyak. Ketika kita menaruh kepercayaan kepada Allah dan tidak memiliki keraguan akan Dia, maka tentu hidup kita di dunia ini akan menghasilkan buah yang baik. Sebaliknya, jika kita tidak percaya dan bertanggung jawab kepada Allah, mungkin kita akan menjadi bukan anak-anak Allah.

(Fr. Jeklin Mononimbar)

“Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang mempunyai, kepadanya akan diberi, tetapi siapa yang tidak mempunyai, dari padanya akan diambil, juga apa yang ada padanya”
(Luk. 19:26).

 

Marilah berdoa:

Ya Tuhan, jadikanlah kami orang yang mampu melaksanakan kehendak-Mu. Amin

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here