“Pemberian Diri Kepada Tuhan”: Renungan, Selasa 17 November 2020

0
490

Pw S. Elisabet dr Hungaria, Biarw (P)

Why. 3:1-6,14-22; Mzm. 15:23ab,3cd-4ab,5; Luk. 19:1-10

Santa Elisabeth adalah  seorang wanita yang tegar dan suka berbagi kepada orang miskin. Singkat cerita, setelah berkeluarga dalam waktu singkat, Elisabet kehilangan suaminya. Kematian suaminya itu menjadi permulaan jalan salibnya. Ia diusir dari istana dan kehilangan tiga orang anaknya. Tetapi dengan tabah, perlakuan di luar perikemanusiaan itu diterimanya. Kekayaan yang masih ada padanya dibagi-bagikannya kepada orang miskin. Ia kemudian menjadi anggota Ordo ketiga Santo Fransiskus dan mengabdikan diri sepenuhnya kepada Tuhan.

Injil hari ini mengisahkan tentang Zakheus. Ia adalah kepala pemungut cukai yang kaya raya. Karena pekerjaannya itu, ia dibenci banyak orang sebab dinilai hanya menguntungkan orang-orang Roma yang menjajah bangsa Yahudi. Ketika Yesus “berdekatan” dengan Zakheus yang mereka anggap berdosa, tentu saja orang-orang waktu itu tidak menyukai tindakan Yesus. Zakheus pun menyadari posisi dirinya yang jelek di mata orang banyak.

Tetapi untuk dapat melihat Ye­sus, ia tidak memedulikan hal itu. Ia ti­dak gengsi bahkan tidak malu memanjat pohon seperti anak-anak, hanya untuk melihat Yesus. Yesus dengan cara yang unik dan tulus hati mengasihi Zakheus. Ia tidak menyalahkan Zakheus, tidak berbicara tentang dosa-dosanya dan tidak ber­tanya-tanya tentang penyele­wengannya yang merugikan sesamanya. Sebaliknya, Yesus justru menerima dan mem­perlakukan Zakheus sebagai pribadi yang membutuhkan belaskasih Allah.

Yesus selalu menawarkan rahmat dan meng­undang orang untuk bertobat. Cinta Allah yang agung itu ditunjukkan oleh Yesus dengan ke­inginan-Nya menginap di rumah Zakheus: “Zakheus segeralah turun, sebab hari ini Aku harus menumpang di rumahmu.” Cinta Yesus pada Zakheus tidak berhenti pada perjumpaan yang terjadi sekilas. Yesus tahu apa kebu­tuhan Zakheus, dan dengan cara yang melimpah Yesus meme­nuhinya. Kini, untuk bertemu dan bersatu dengan Yesus.

Kisah Santa Elisabeth dan Zakheus yang kita dengarkan hari ini memberikan makna bagi kita bahwa, harta dan kekayaan tidak ada nilainya. Hidup dengan Yesus adalah hal yang istimewa. Meskipun Elisabeth seorang yang kaya, ia tidak sombong dan membagi setengah dari kekayaannya itu kepada orang miskin. Begitu pun juga dengan Zakheus yang bertobat lalu mengembalikan apa yang bukan menjadi miliknya. Semoga dalam kehidupan, kita semua senantiasa tidak bergantung pada harta, melainkan bergantung pada Yesus sendiri.

(Fr. Longginus Rumangun)

 

“Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang” (Luk. 19:10).

 

Marilah berdoa:

Tuhan, buatlah hidup kami berguna bagi orang lain. Amin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here