“Jalan Kebenaran”: Renungan, Sabtu 14 November 2020

0
497

Hari Biasa (H)

3 Yoh 1:5-8; Mzm 112:1-2.3-4.5-6; Luk 18:1-8.

Kebenaran merupakan sepucuk kata sering kita dengar dalam kehidupan kita di mana saja kita berada. Semua orang ingin untuk dapat dibenarkan baik itu dalam pikiran, perkataan maupun perbuatan. Dalam semua hal, baik itu dalam bidang pendidikan, sosial, dan segala tindakan kebersamaan lainnya, selalu yang hendak dipatuhi yakni menuntut akan adanya sebuah kebenaran untuk dihidupi. Kalau semua orang ingin dirinya benar dan tidak mau menerima pendapat orang lain, maka tentu kita tidak bisa mengatakan pendapat mereka atau tindakan mereka salah.

Dalam bacaan pertama, Rasul Yohanes mengajarkan kepada kita bahwa kebenaran akan diperoleh ketika kita mengambil bagian dalam pekerjaan murid-murid, yang telah bekerja mewartakan Kristus. Mereka adalah orang-orang yang oleh kasih karunia Kristus membawa dan mengajarkan jalan kebenaran, sama seperti yang Kristus kerjakan dalam pelayanannya. Kita wajib menerima mereka, supaya boleh mengambil bagian dalam pekerjaan mereka untuk kebenaran. Demikian, rasul Yohanes mengajak kita untuk berpartisipasi dalam kebenaran dengan menerima mereka yang mewartakan kebenaran akan Kristus.

Dalam Injil, Yesus memberikan sebuah perumpamaan tentang seorang hakim dan seorang janda miskin, yang rajin berdoa kepada Allah. Hakim tersebut adalah seorang yang tidak takut kepada Allah dan tidak menghormati seorang pun. Kemudian janda miskin datang kepadanya untuk membela haknya terhadap lawannya. Hakim menolak untuk membelanya, namun janda itu terus datang kepadanya. Akhirnya hakim itu  membenarkan janda itu. Lewat perumpamaan ini, Yesus mau mengajarkan kita bahwa orang yang berseru kepada-Nya dan meminta pertolongan pada-Nya akan mendapatkan pembenaran dari Allah.

Saudara terkasih, bacaan-bacaan Kitab Suci yang kita dengarkan hari ini, hendak mengajak kita untuk menjadi rasul kebenaran Allah, yang senantiasa menjadikan Allah sebagai sumber pengharapan dan kebenaran itu sendiri. Allah tidak pernah meninggalkan umatnya yang senantiasa berseru dan berdoa kepadanya. Dalam seluruh pengalaman pergumulan dan kesulitan manusia, Allah hadir dan tidak pernah meninggalkan orang yang senantiasa berseru dan berdoa kepada-Nya. Ia tidak pernah mengulur-ulur waktu bagi mereka yang meminta pertolongan-Nya. Namun, rahmat yang luar biasa ini tidak akan bekerja jika manusia tidak memiliki iman akan kebenaran Allah.

(Fr. Arnoldus Jansen Buarlely)

“Akan tetapi, jika Anak Manusia itu datang, adakah Ia mendapati iman di bumi” (Luk. 18: 8).

Marilah Berdoa:

Tuhan, ajarlah aku untuk membuka hati dan menghidupi kebenaran sejati dari pada-Mu. Amin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here