“Kasih Abadi”: Renungan, Jumat 13 November 2020

0
476

Hari Biasa (H)

2Yoh. 1:4-9; Mzm. 119: 1,2,10,11,17,18; Luk. 17:26-37.

Dewasa ini, semangat kasih yang sejati terkadang menjadi luntur karena digadang-gadang oleh harta, takhta, dan kenikmatan duniawi. Cinta kita tidak lagi otentik, tetapi penuh kemunafikan dan kepentingan terselubung. Jika demikian, cinta kita menjadi cinta murahan, cinta palsu, dan cinta yang ada maunya.

Dalam bacaan Injil, Yesus mengingatkan kita akan zaman Nuh dan zaman Lot. Pada zaman Nuh, kecenderungan hati manusia tertuju untuk membuat kejahatan semata-mata. Mereka tidak mau bertobat dan tidak mau mendengarkan teguran. Lalu Allah memutuskan untuk mengakhiri hidup segala makhluk kecuali Nabi Nuh, keluarga dan binatang-binatang yang diselamatkan. Pada zaman Lot, kejahatan manusia merajalela dan Allah telah memperingatkan penduduk kota Sodom dan Gomora lewat Lot dan Abraham, namun mereka tidak mau bertobat dan tidak mau kembali kepada Tuhan. Sehingga Tuhan mengutus malaikat-Nya untuk membinasakan Sodom dan Gomora. Yesus menegaskan bahwa kedatangan Kerajaan-Nya akan tergenapi. Pada waktunya, banyak orang akan terkejut karena tidak siap, ada orang yang diselamatkan, namun juga ada yang tidak. Karena mereka terlalu sibuk dengan urusan-urusan sendiri, yakni perkara-perkara duniawi.

Dalam bacaan pertama, Rasul Yohanes juga memperingatkan kita, bahwa aku minta kepadamu untuk hidup menurut perintah Tuhan, hidup dalam kasih, sebagaimana telah kamu dengar dari mulanya. Peringatan ini, hendak mengajak kita agar selalu hidup saling mengasihi dan  supaya kita tetap tinggal di dalam ajaran dan perintah Yesus Kristus. Kriteria yang dapat dipakai adalah apakah kita sudah melaksanakan perintah mengasihi sesama atau belum?

Perintah kasih inilah yang hendaknya mendasari hidup setiap orang yang percaya akan Allah sumber kasih abadi. Semangat untuk saling mengasihi dan mencintai ini menjadi dasar atas segala pengharapan dalam menantikan datangnya Kerajaan Allah, di mana kasih yang sempurna akan dinyatakan. Yesus menekankan perlunya mengenal kehadiran Kerajaan Allah dalam hidup ini. Kita akan dibaharui bila selalu sadar akan Allah yang meraja dalam hidup ini. Kesadaran itu harus tumbuh dalam diri sendiri, keluarga, komunitas dan masyarakat, sehingga Kerajaan Allah memang nampak dalam seluruh dinamika kehidupan. Dengan demikian, kasih Allah dan kerajaan-Nya dapat dirasakan oleh semua orang.

(Fr. Kostan Tunyanan)

“Barangsiapa berusaha memelihara nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya” (Luk. 17:33).

Marilah Berdoa:

Ya Bapa, tolonglah aku agar tidak jemu-jemu untuk berbuat kasih kepada sesama, terutama kepada mereka yang membutuhkan pertolongan. Amin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here