“Kejujuran Bukan Kepalsuan”: Renungan, Kamis 15 Oktober 2020

0
12563

Pw S. Teresia dr Yesus

Ef. 1:1-10; Mzm. 98:1,2-3ab,3cd4,5-6; Luk 11:47-54

Ada sebuah lagu yang berjudul “Hidup ini adalah Kesempatan”. Lagu ini menceritakan bagaimana setiap orang memiliki kesempatan untuk hidup, mengemukakan pendapat, melakukan kebaikan demi kemuliaan Allah. Namun, manusia seringkali salah mempergunakan kesempatan yang ada pada dirinya untuk melakukan tindakan yang tidak bermoral. Misalnya, memberikan kesaksian yang palsu. Kesaksian yang palsu atau kemunafikan yang dilakukan seseorang demi mencari kepuasan diri sendiri. Kebohongan telah membutakan dan membuat seseorang salah mempergunakan kesempatan hidupnya.

Bacaan-bacaan Kitab Suci secara khusus bacaan Injil, menceritakan tentang bagaimana Yesus mengecam orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat atas kepalsuan dan kemunafikan yang mereka lakukan. Tindakan yang dilakukan oleh orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, hendak memperlihatkan kesombongan mereka atas pengetahuan yang ada pada diri mereka. Namun, mereka tidak menyadari bahwa apa yang mereka ajarkan adalah suatu ajaran yang keliru. Artinya, ajaran-ajaran itu semua hanyalah kemunafikan mereka semata. Dengan demikian, Yesus dengan keras mengecam mereka. “Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat, sebab kamu telah mengambil kunci pengetahuan; kamu sendiri tidak masuk ke dalam dan orang yang berusaha untuk masuk ke dalam kamu halang-halangi”.

Dalam kehidupan sehari-hari, perbuatan dan sikap yang kita tunjukkan seringkali sama seperti orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat. Terkadang kita menyampaikan informasi-informasi yang palsu kepada sesama. Padahal informasi atau berita itu hanyalah sebuah kebohongan. Perbuatan dan tindakan itu adalah dosa. Kendati demikian, kasih Allah begitu besar bagi manusia, sehingga Ia menganugerahkan Anak-Nya yang Tunggal untuk menebus dosa-dosa umat-Nya. Allah telah memberikan kesempatan kepada kita untuk tetap hidup dalam kebenaran dan kejujuran. Namun, kita sering menyia-nyiakan kesempatan itu dengan melakukan tindakan-tindakan yang bertentangan dengan kehendak Allah.

Sadar sebagai orang berdosa, maka marilah kita bertobat. Kita bisa belajar dari Sta. Teresia dari Yesus yang hidupnya suci dan taat kepada Allah. Atas dorongan Roh Kudus Santa Teresia telah menunjukkan kepada kita, jalan menuju kesempurnaan hidup. Dia memberikan contoh kepada kita untuk senantiasa menyerahkan diri pada rencana dan kehendak Tuhan. Tuhan Yesus mengajak kita untuk mensyukuri kehidupan ini. Kita berdoa semoga cinta kasih Allah  dapat kita rasakan dan kita bagikan kepada sesama.

(Fr. Fidelis Solilit)

Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat, sebab kamu telah mengambil kunci pengetahuan; kamu sendiri tidak masuk ke dalam dan orang yang berusaha untuk masuk ke dalam kamu halang-halangi” (Luk. 11:52).

Marilah berdoa:

Ya Allah, ajarilah aku untuk bersaksi yang benar di hadapan-Mu dan di hadapan semua orang. Amin

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here