“Jangan Narsis”: Renungan, Rabu 14 Oktober 2020

0
614

Hari Biasa (H)

Gal. 5:18-25; Mzm. 1:1-2,3,4,6; Luk. 11:42-46

Kata narsis/narsistik diambil dari kisah Narcissus, seorang pemuda Yunani, yang jatuh cinta pada bayangannya sendiri ketika tidak sengaja melihat bayangan dirinya pada kolam air. Narsistik menunjuk pada kondisi gangguan kepribadian dimana seseorang akan menganggap dirinya sangat penting dan harus dikagumi. Orang narsis atau bahasa kerennya cari muka akan selalu berusaha untuk mendapatkan banyak perhatian dan simpati. Dapat dikatakan, mereka tidak akan dapat bertahan hidup jika mereka tidak mendapatkan perhatian dan simpati dari orang lain.

Injil hari ini mengisahkan tentang Yesus yang mengecam perilaku dan sikap hidup dari orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat. Mereka mempraktekkan hidup yang tidak benar dihadapan Allah. Mereka begitu kuat dalam hal Hukum Taurat akan tetapi tidak melaksanakan dan melakukannya dalam kehidupan sehari-hari. Motif dari perbuatan mereka yakni ingin dipuji dan ingin mendapatkan perhatian yang lebih. Kenyataannya, praktek hidup yang mereka tampilkan menyengsarakan dan membuat orang lain malah menderita. Nampaklah suatu sikap bobrok dimana mereka berdiri di atas penderitaan orang lain. Inilah budaya narsis yang membawa petaka bagi kehidupan orang lain. Manakah hal yang benar dan harus dilakukan?

Surat Rasul Paulus kepada jemaat di Galatia hari ini kiranya dengan jelas memberikan kepada kita petunjuk bagaimana kita harus berlaku dan bertindak dalam kehidupan sehari-hari. Kata kunci yang dapat kita ambil dari kisah ini yakni hidup sesuai Roh. Roh senantiasa hadir dalam kehidupan kita. Tinggal kita memilih, apakah kita hidup menurut Roh atau malah sebaliknya. Sebagai anak-anak Allah, kita harus hidup sesuai dengan Roh. Jika kita hidup dalam Roh, maka kita menjadi milik Kristus. Selanjutnya, jika kita telah menjadi milik Kristus, maka kita pun telah menyalibkan hawa nafsu dan keinginan kita. Menjauhi perbuatan yang jahat serta melakukan perbuatan yang baik merupakan buah-buah dari hidup yang didasarkan pada tuntunan Roh Kudus. Roh yang sama pula memberikan jaminan kepada kita akan keselamatan dan kehidupan abadi bersama Allah. Pada akhirnya, narsis atau tren cari muka kini tidak lagi menjadi sesuatu yang harus kita kejar dan kita capai, karena kita telah menemukan arti kebahagiaan dan kesenangan sejati yakni tinggal dan bersatu dengan Yesus.

(Fr. Bastian Manorek)

“Barangsiapa menjadi milik Kristus Yesus, ia telah menyalibkan daging dan segala hawa nafsu dan keinginannya” (Gal. 5:24).

Marilah berdoa:

Tuhan, ajarkan kami untuk hidup menurut Roh. Amin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here