“Harapan Yesus” : Renungan, Minggu 2 Agustus 2020

0
622

Hari Minggu Biasa XVIII (H).

Yes. 55 :1-4 ; Mzm 145:89,15-16,17-18; Rm. 6:35,37-39; Mat. 14:13-21.

Sabda Tuhan hari ini memberikan dimensi baru dari hal makan dan minum, yang ternyata tidak hanya sekedar mengenyangkan tubuh jasmaniah belaka. Pertama-tama lewat nubuatan nabi Yesaya ditunjukkan bahwa hal terpenting dalam memenuhi kebutuhan pokok teristimewa makan dan minum. Ini adalah undangan Tuhan sendiri: “Terimalah gandum tanpa uang pembeli dan makanlah; minumlah anggur dan susu tanpa bayar”. Ini adalah sebuah ajakan yang sungguh mau memenuhi apa yang menjadi kebutuhan dasar hidup manusia. Namun kebutuhan dasar ini oleh nabi Yesaya diperdalam menjadi suatu ajakan untuk datang kepada Tuhan sendiri yang menjadi pemberi hidup bagi manusia yang mau menaruh harapan kepadanya. “Sendengkanlah telingamu, dan datanglah kepadaKu; dengarkanlah maka kamu akan hidup”.

Hal kedua lewat peristiwa perbanyakan roti dalam Injil tampaklah bahwa bagi Yesus pun hal makan demi pemenuhan kebutuhan hidup adalah penting. Tatkala para murid merasa khawatir bahwa orang banyak harus makan, mereka lebih cenderung untuk menyuruh orang banyak itu untuk pergi mencari makan masing-masing. Tetapi Yesus berkehendak lain, yakni Ia lebih melihat kenyataan bahwa orang banyak yang perlu makan adalah juga bagian dari perhatian para murid. Di sini Yesus menghadirkan tanda konkret dari kasih setia itu sendiri. Hal sedemikian tampak dalam perhatian Yesus bagi orang banyak yang mendengarkannya. Yesus menegaskan: “Tidak perlu mereka pergi! Kamu harus memberi mereka makan”. Ini adalah sebuah penegasan yang mengubah cara pandang, yang mana melihat lima roti dan dua ikan sebagai jumlah yang tak mungkin mengenyangkan orang banyak. Namun doa dan berkat Yesus menjadikan itu semua cukup bagi semua orang. Sungguh sebuah tanda kasih yang besar. Dan yang ketiga, berkenaan dengan penegasan akan makna kasih setia Allah bagi manusia. Hal ini ditegaskan oleh rasul Paulus dengan mengatakan bahwa tiada suatu pun ciptaan yang dapat memisahkan kita dari cinta Allah, yang dinyatakan dalam diri Kristus. Persatuan itulah yang menjadi dasar kekuatan tersebut.

Bertolak dari unsur-unsur ini, kita dapat merenungkan bahwa kita yang sementara membangun kehidupan kita ini, sungguhnya sementara diberi kesempatan untuk memenuhi kebutuhan hidup yang tidak semata-mata jasmani. Hal ini berarti bahwa kita yang masih bisa mendapatkan makan dan minum, sesungguhnya diajak pula untuk mendapatkan makan dan minum yang tak akan habis, itulah santapan rohani. Santapan rohani adalah bentuk kehadiran dan pewujudan kasih setia Allah pada manusia, dan juga kepercayaan kita pada kasih Allah yang memberi hidup. Kasih timbal balik sedemikian sesungguhnya terungkap dalam ekaristi yang kita rayakan. Sebab di dalamnya kita menjadi kuat dan dimampukan untuk senantiasa bersatu dengannya, sebagaimana diungkapkan dalam mazmur hari ini : « Engkau membuka tangan-Mu dan berkenan mengenyangkan segala yang hidup ».

 (Pst. A. Bayu Nuyartanto, Pr.)

“Tidak perlu mereka pergi, kamu harus memberi mereka makan” (Mat. 14:16).

Marilah berdoa:

Ya Bapa, semoga kami selalu dipuaskan dalam sabda-Mu yang sungguh menghidupkan kami. Amin

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here