“Karya Kasih” : Renungan, Senin 6 Juli 2020

0
467

Hari Biasa (H)

Hos. 2:13,14b-15,18-19; Mzm. 145:2-3,4-5,6-7,8-9: Mat. 9:18-26

“Tuhan itu pengasih dan penyayang, panjang sabar dan besar kasih setia-Nya”. Itulah penggalan ayat dari mazmur hari ini yang mengungkapkan betapa besar kasih Allah. Dia sungguh mengasihi umat-Nya. Hal itu dinyatakan kepada umat Israel meskipun mereka, kadangkala berpaling dari Allah, namun Dia tetap setia dan mengasihi bangsa Israel. Nabi Hosea dalam  bacaan pertama menyimbolkan hubungan Allah dan umatnya sama seperti suami dan istri. Nubuat Hosea kepada Bangsa Israel menyatakan bahwa kasih setia Allah tak pernah lebih kecil dari ketidaksetiaan mereka. Pun juga Dia menandai hubungan-Nya dengan umat manusia dengan sebuah ikatan yang dekat dan penuh kasih sayang yaitu pernikahan.

Kesetiaan dan kasih Allah itu dalam Perjanjian Baru berlanjut  dalam setiap karya Yesus. Dia kini hadir di antara umat manusia dengan selalu mendampingi orang-orang yang terpinggirkan oleh stigma agama dan budaya. Bahkan Kristus sering dipandang melanggar aturan nenek moyang ketika mengungkapkan kasih Bapa kepada umat-Nya. Bacaan Injil hari ini memperlihatkan perbuatan Yesus yang menakjubkan. Dia menyembuhkan seorang wanita yang menderita pendarahan dan membangkitkan anak kepala rumah ibadat yang sudah meninggal. Kedua peristiwa ini menimbulkan kekaguman, kepercayaan tapi juga cemooh.

Dalam budaya orang Yahudi, menyentuh mayat adalah najis, begitu pula dengan bersentuhan dengan wanita yang mengalami pendarahan. Namun bukannya menghindari mereka, Yesus malah menghampiri mereka seperti yang dilakukannya kepada putri Yairus. Hal serupa juga terjadi dilakukan-Nya pada seorang wanita yang menderita pendarahan dan menyentuh jumbai jubah-Nya. Bukannya menjadi najis, tetapi sebaliknya wanita ini sembuh.

Kedua mukjizat dalam Injil hari ini memberi dua pesan sekaligus, pertama bahwa Allah tak pernah meninggalkan umat-Nya bahkan dalam situasi tak berpengharapan sekalipun. Kedua adalah dosa dan “kekotoran” manusiawi tak pernah menghalangi sentuhan kasih-Nya yang menyembuhkan.  Tindakan Kristus dalam karya-karya keselamatan-Nya bagi mereka yang terpinggirkan, menyentuh hati setiap orang beriman untuk melihat bahwa setiap orang sakit karena dosa dan tak satupun yang berhak menjauhi dan menganggap diri lebih suci dan bersih, kasih yang diwartakan Kristus bukanlah untuk diri sendiri, tapi kasih Bapa yang melihat orang berdosa yang bertobat dan sadar senantiasa tetap menjadi anak-anak-Nya.

(Fr. Reno Sondakh)

Asal aku jamah saja jubah-Nya, aku akan sembuh(Mat. 9:21).

Marilah berdoa :

Ya  Allah, semoga aku mampu mengikuti teladan-Mu dan mengasihi orang lain seperti aku mengasihi diriku sendiri. Amin

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here