“Belajar dari Yesus Yang Lembut dan Rendah Hati”: Renungan, Minggu 5 Juli 2020

0
744

Hari Minggu Biasa XIV (H)                                  

Za. 9:9-10; Mzm. 145:1-2,89,10-11,13cd-14; Rm. 8:9,11-13; Mat. 11:25-30

Bunyi Refren Mazmur tanggapan Minggu ini adalah, “Aku mengagungkan Dikau, ya Allah Rajaku”. Alasan mengagungkan Tuhan adalah kasih setia-Nya yang diceritakan dalam bacaan pertama dan kedua. Nubuat Zakaria mengajak seluruh penduduk Yerusalem yang percaya kepada Allah untuk bersyukur karena Allah datang mengunjungi umat-Nya. Allah mengunjungi umat-Nya secara nyata dalam kehadiran Tuhan Yesus Kristus.

Sikap kelembutan dan kerendahan hati membuat orang peka untuk belajar dari orang lain dan dari pengalaman hidup. Orang yang sombong dan suka memaksakan kehendaknya sendiri akan tertutup hatinya dan tidak bisa belajar dari siapapun dan dari apapun. Sikap Yesus yang peka atas peristiwa – peristiwa yang terjadi diungkapkan dalam bacaan Injil hari ini: “Ya Bapa, Aku bersyukur kepada-Mu, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang cerdik pandai, namun Engkau nyatakan bagi kaum sederhana (Mat. 11: 25).

Yesus melihat bahwa kaum cerdik pandai, yaitu para ahli kitab, pemimpin bangsa Israel, orang-orang Farisi dan Saduki, yang adalah orang-orang terpelajar, ternyata tidak mampu melihat apa sesungguhnya yang sedang terjadi. Yakni Allah sedang mengunjungi umat-Nya melalui kehadiran Yesus.

Sebaliknya orang-orang miskin, orang sakit, orang buta dan orang lumpuh, orang-orang yang lapar dan haus, mampu melihat bahwa Allah sungguh-sungguh sedang menyatakan diri-Nya melalui pewartaan dan mujizat-mujizat yang dikerjakan oleh Yesus. Orang-orang sederhana itu dengan hati yang tulus mengikuti Yesus kemana saja Ia pergi untuk mendengarkan pengajaran-Nya. Itulah yang dilihat oleh Yesus, dan Ia bersyukur memuji Allah karena Allah berkenan menyatakan misteri Kerajaan bagi kaum sederhana.

Rasul Paulus yang termasuk orang terpelajar, namun hatinya tulus untuk bertobat dan mewartakan Injil Allah. Paulus tidak pernah bertemu dengan Yesus waktu di Galilea, melainkan bertemu dengan Yesus yang telah bangkit di gerbang kota Damsyik.

Saudara-saudari, Allah bukan hanya mengunjungi kita, Allah bahkan tinggal bersama kita, Allah bukan hanya tinggal bersama kita, Allah hadir di dalam diri kita, sehingga tubuh kita yang fana ini mempunyai daya hidup ilahi. Marilah kita belajar dari Tuhan Yesus, Sang Guru sejati kita, supaya kita lembah lembut dan rendah hati sehingga mampu melihat kehadiran Allah di dalam kehidupan kita yang fana ini.

(Romo Albertus Sujoko MSC)

“Belajarlah daripada-Ku, karena Aku lembah lembut dan rendah hati” (Mat. 11: 30).

Marilah berdoa:

Tuhan Yesus Kristus, jadikanlah hatiku seperti hati-Mu, supaya kami mampu merasakan kehadiran Allah di dalam diriku yang hina dina ini. Amin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here