“Yesus Masa Depan Abadi”: Renungan, Selasa 30 Juni 2020

0
357

Hari Biasa(H)

Ams. 3:1-8;4:11-12; Mzm. 5:5-6,7,8; Mat. 8:23-27, BcO Neh.7::7b-8:18. Pfak para Martir Pertama di Roma (M).

“Seekor serigala tidak akan bisa mengalahkan seekor singa jantan yang besar, tetapi sekelompok serigala pasti bisa mengalahkannya.” Istilah atau pepatah ini bisa diimplikasikan pada kebiasaan masyarakat di Indonesia yang cenderung hidup berkelompok. Jika seseorang ada bersama-sama dengan kelompoknya, ia akan berani untuk berbuat sesuatu atau bertindak. Namun jika kemudian terpisah dengan kelompoknya, ia menjadi orang gagap dan tidak dapat berbuat banyak.

Dalam Injil hari ini dikisahkan tentang para murid Yesus yang panik ketika angin ribut datang. Tetapi pada saat itu Yesus justru tertidur di dalam perahu. Mereka takut perahu akan tenggelam dan mereka akan binasa. Mereka membangunkan Yesus dan berkata, “Tuhan, tolonglah, kita binasa”. Mungkin juga dari antara murid itu ada yang menggerutu kepada Yesus, oleh karena mereka berjuang keluar dari bahaya itu, Yesus malah enak-enak tidur. Yesus menegur mereka yang kurang percaya dan kemudian menghardik angin ribut itu, sehingga danau teduh kembali.

Pertanyaannya, mengapa para murid masih ragu kepada Yesus? Padahal sebelumnya mereka telah melihat hal-hal besar dan ajaib yang dilakukan Yesus. Padahal Yesus masih satu perahu bersama dengan mereka. Bayangkan bagaimana keadaan mereka seandainya Yesus tidak bersama dengan mereka? Adakah yang penuh kepercayaan berseru kepada Yesus ketika bencana itu datang?

Kitab Amsal dalam bacaan pertama, mengajarkan kita untuk selalu setia dan percaya kepada Tuhan dalam menghadapi hidup ini. Bukan mengandalkan kekuatan dan pengertian diri sendiri. Memang ketika dalam mengahadapi masalah, kita berdoa dan tidak dapat bertemu langsung dengan Yesus supaya mendapat kepastian. Atau doa kita sepertinya tidak ada tanda-tanda respon dari Yesus. Tetapi di sekitar kita ada keluarga, dan orang-orang yang dapat kita jadikan sandaran. Mungkin melalui merekalah Yesus menjawab keluhan kita.    

Kita juga bisa belajar dari iman kepercayaan yang teguh dari para martir pertama di Roma yang kita peringati hari ini. Mereka mengalami siksaan yang keji oleh Kaisar Nero, dijadikan sumbu obor lalu dibakar dan ada juga yang diadukan dengan binatang buas. Namun siksaan itu tidak menyurutkan kepercayaan dan harapan mereka kepada Yesus yang mereka imani. Siksaan keji karena iman akan Yesus itu dipercayai oleh mereka bukan suatu kebinasaan, melainkan pembuktian kepercayaan mereka akan Yesus demi masa yang akan datang. Masa di mana mereka bersama dengan Yesus dalam kemuliaan-Nya yang abadi di surga.

(Fr Ignatius Kisa)

“Percayalah kepada Tuhan dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri” (Ams. 3:5).

Marilah berdoa:

Yesus, bimbinglah aku dalam kemuliaan-Mu. Amin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here