“Siapakah yang Layak Menjadi Murid Kristus?”: Renungan, Minggu 28 Juni 2020

0
503

Hari Minggu Biasa XIII (H)

2 Raj. 4 :8-11, 14-16a;  Mzm. 89: 23,16-17,18-19; Rm. 6: 3-4,8-11; Mat. 10 :37-42.

Mungkin kita pernah mempertanyakan siapakah yang berhak dan layak atas sesuatu. Pertanyaan yang sedemikian kadang kala justru menimbulkan banyak upaya manipulasi supaya bisa mendapatkan hak dan kelayakan atas sesuatu itu. Kalau kita mau merenungkan persoalan sedemikian ini secara lebih serius maka kita akan menemukan bahwa untuk menjadi seorang yang berhak dan layak atas sesuatu itu, perlu dibarengi dengan sebuah kesanggupan dari dalam diri. Kesanggupan sedemikian inilah yang menghilangkan segala hal yang semu. Jelaslah di sini bahwa kita tidak hanya diarahkan untuk mencari sesuatu yang menjadi simbol belaka tetapi yang menjadi jati diri kita.

Lewat sabda Tuhan pada hari ini, kita diperhadapkan dengan pertanyaan siapakah yang layak menjadi murid Kristus ? Menjadi murid Kristus tentu adalah kerinduan kita sebagai orang Kristen. Terutama lewat sakramen pembaptisan yang kita terima. Akan tetapi lewat inisiasi sedemikian apakah kita memang sudah berhak dan layak menyandang gelar murid Kristus? Kalau kita merenungkan apa yang menjadi pengajaran Yesus dalam Injil, maka kita dapat menyadari ternyata tidaklah secara otomatis kita secara layak disebut murid Kristus. Ada beberapa hal mendasar dalam mengungkapkan kehidupan sebagai murid secara sedemikian.

Pertama, menjadi murid Kristus ternyata tidak sekedar sebuah pemberian begitu saja. Sebutan sedemikian meminta sebuah usaha untuk menjadi murid itu sendiri, seperti dengan mengasihi Tuhan lebih dari segala sesuatu, berani kehilangan nyawa bahkan berani memanggul salib. Di sini kita melihat sebuah bentuk pengorbanan dan penyangkalan diri.

Kedua, itulah menjadi murid Kristus yang dijiwai dengan semangat untuk berbuat banyak kebaikan bagi sesama. Ini menjadi pokok dari segala pengorbanan dan penyangkalan diri tadi. Sebab tanpa perbuatan baik maka segala pengorbanan diri menjadi sia-sia dan tak bernilai dalam kaitan dengan cinta kasih Tuhan. Perbuatan baik yang didasarkan pada sebuah pengorbanan dan penyangkalan diri akan memberikan yang baik dalam arti sebagai « Tuhan yang membantu ».

Di lain pihak, kita juga pantas untuk semakin menjadi « Tuhan yang membantu » sebagaimana telah ditunjukkan oleh Nabi Elisa yang membalas kebaikan dari tuan rumah yang telah mempersiapkan sebuah ruangan baginya. Balasan kebaikan yang memenuhi kerinduan dan harapan dari tuan rumah untuk mendapatkan keturunan « Pada waktu seperti ini juga, tahun depan, pada musim seperti sekarang ini, engkau akan menggendong seorang bayi.” Demikian juga dalam perjuangan kita untuk mencapai kelayakan sebagai murid Kristus, kita pun perlu menjadi bagian dari « Tuhan yang membantu », dalam arti kita menjadi saluran perwujudan kebaikan-kebaikan dalam hidup bersama di mana pun kita berada.

Lewat permenungan pada hari ini, kita sungguh dicerahkan dalam hal menyadari kembali makna sebagai murid Kristus yang tidak menjadi pasif dan menutup mata terhadap berbagai peristiwa dalam lingkungan sekitar kita. Setiap perbuatan baik, entah yang kita lakukan kepada siapa saja, merupakan perbuatan baik yang kita lakukan untuk Tuhan Yesus: apa yang kamu lakukan untuk saudara-Ku yang paling hina, itu kamu lakukan kepada-Ku. Inilah unsur baru yang penting dalam tindakan baik kepada sesama: kita melakukannya untuk Tuhan pula. Tuhan pun akan selalu melimpahkan kebaikan-Nya kepada kita.

(P. A. Bayu Nuyartanto, Pr)

“Barang siapa tidak memikul salibnya dan mengikuti Aku, ia tidak layak bagiku”  (Mat. 10:38).

Marilah berdoa:

Ya Bapa, semoga kami selalu berani memberi diri bagi siapa saja demi mewujudkan kehidupan yang semakin baik sebagai tanda kehadiran-Mu di dunia ini. Amin

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here