“Satu dengan Allah”: Renungan, Sabtu 4 April 2020

0
852

Hari Biasa Pekan V Prapaskah (U), Pfak S. Isidorus, UskPujG (P)

Yeh. 37:21-28; MT Yer. 31:10,1112ab,13; Yoh. 11:45-56.

Hari ini kita meperingati Santo Isidorus Uskup dan Pujangga Gereja. Ia adalah seorang yang selalu menyempatkan diri untuk berdoa, berpuasa dan merenungkan Kitab Suci. Semua ini menjadikan dia seorang uskup yang saleh, bijaksana dan rendah hati. Apa yang dia peroleh ini merupakan pemberian dari Allah yang membuat Isidorus menjadi orang yang sangat disenangi oleh umat di mana ia melayani.

Dalam bacaan yang pertama, Allah yang diwartakan oleh nabi Yehezkiel menghendaki agar bangsa Israel menjadi satu bangsa di bawah satu Allah dan satu Raja. Sementara itu, kehadiran Yesus, dalam Perjanjian Baru, memperluas kesatuan manusia dalam Allah. Persatuan itu tidak hanya untuk bangsa Israel saja tetapi untuk semua bangsa di muka bumi ini. Yesus, dalam Injil Yohanes ditantang oleh anggapan buruk orang Farisi dan ahli Taurat. Mereka menyatakan bahwa Yesus telah mengguncang iman para pengikut agama Yahudi. Kayafas, imam agung, mengatakan “… bahwa lebih berguna bagimu, jika satu orang mati untuk bangsa kita dari pada seluruh bangsa kita ini binasa.” Kata-kata inilah yang membuat mereka bersatu, bukan dalam hal kebaikan, tetapi dalam hal keburukan untuk membunuh Yesus.

Ada orang yang dalam hidup ini memiliki kehendak baik untuk menyatukan keluarga atau masyarakat. Tetapi, banyak orang juga menilainya sebagai bentuk pencitraan diri. Karena menimbang bahwa reputasi kita menurun, daya pengaruh kita tidak kuat lagi, bahkan dalam dunia politik pengaruh kita menurun, maka kita mulai menciptakan gosip, hoax, bully, mengancam bahkan melakukan kekerasan terhadap orang yang berusaha menyatukan kita.

Pada Masa Sengsara ini, Yesus menyembunyikan sisi keilahian-Nya, agar kita mampu melihat Dia sebagai saudara. Ketika kita diancam tanpa alasan yang mendasar dan ketika kita diadili tanpa keadilan, kita telah mengambil bagian dalam misi Yesus. Namun, kita tidak perlu takut, karena Allah senantiasa berpihak pada orang yang mengusahakan diri dan sesama bersatu dalam satu Allah, terutama kesatuan kita dalam menghayati nilai-nilai ketuhanan. Marilah kita percaya bahwa Allah itu setia pada umat-Nya. Mari kita saling menghargai sesama. Janganlah iri hati karena kebaikan atau keberhasilan orang lain.

(Fr. Aldo Adelbert Oping)

“Aku akan mengadakan perjanjian damai dengan mereka, dan itu akan menjadi perjanjian yang kekal dengan mereka” (Yeh 37:26a)

Marilah Berdoa:

Ya Tuhan, berilah cinta-Mu agar kami selalu bersatu dengan-Mu. Amin

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here