“Iman dalam Kebenaran”: Renungan, Jumat 3 April 2020

0
647

Hari biasa Pekan V Prapaskah (U)

Yer. 20:10-13; Mzm. 18:2-3a,3bc4,5-6,7; Yoh. 10:31-42.

Dalam dunia dagang, hal credibilitas antara satu manajemen dengan manejemen lainnya adalah kunci suksesnya persetujuan kerja sama antara keduanya. Akan tetapi sebelum kepercayaan lahir, pihak yang bersangkutan perlu melakukan penelusuran dan bukti apakah satu manajemen dapat dijadikan mitra kerja atau tidak. Maka untuk menyukseskan itu semua perlu juga adanya pengetahuan yang lebih mengenai cara-cara bagaimana mencapai keberhasilan dalam dunia dagang.

Dalam bacaan injil diceritakan orang-orang Yahudi menolak Yesus dengan tuduhan Ia menghujat Allah, dan menyamakan diri dengan Allah. Menanggapi itu Yesus mengatakan kepada mereka tentang siapa diri-Nya dan untuk apa Ia datang ke dunia. Sayangnya orang-orang Yahudi waktu itu kurang cermat menangkap makna dari Kitab Taurat. Mereka tidak paham maksud dari apa yang tertulis di dalam kitab tersebut. Karena itu mereka tidak mengenal Yesus secara mendasar dan mendalam, sehingga tidak percaya akan kebenaran sejati yang terpancar dalam diri Yesus.

Kehadiran Yesus di dunia sejatinya mau menunjukkan bahwa Allah dan segenap karya-Nya bereksistensi dalam kehidupan manusia. Realita sudah jelas terpampang, yakni tentang kebenaran dalam diri Yesus saat melaksanakan tugas perutusan dari Bapa-Nya. Sayangnya percaya akan kebenaran masih menjadi sesuatu yang sulit jika tidak disertai dengan pengetahuan yang cukup. Sama halnya dengan banyak orang di masa modern ini yang kurang memahami apa yang mereka imani. Padahal tanpa disadari, karya Allah telah lama bekerja di setiap segi kehidupan manusia.

Bacaan pertama menceritakan tentang Nabi Yeremia yang bersaksi bahwa akan datang masa-masa sulit di dalam kehidupannya. Tapi ia tidak gentar menghadapi itu semua. Karena ia yakin bahwa Tuhan selalu menyertai dia. Nabi Yeremia mengajarkan bahwa manusia harus berusaha sedekat mungkin berada dalam kebenaran sejati yang hanya ada pada Tuhan. Segala kekuatan diperoleh karena iman yang teguh. Keyakinan akan perlindungan dari Tuhan selalu tinggal dalam hati Nabi Yeremia. Ia menjadi contoh konkret bagaimana manusia seharusnya mau datang kepada Tuhan dengan percaya dan mau berlindung kepada-Nya.

Iman yang dimiliki oleh manusia haruslah disertai dengan pengetahuan akan kebenaran dari iman itu sendiri. Jangan beriman hanya bermodalkan kepercayaan saja, melainkan mampu secara akurat menghayatinya atas dasar pengetahuan tentang siapakah Yesus itu, siapakah Allah itu. Dengan demikian kita akan selalu berada dalam naungan Tuhan lewat doa dan karya di dunia ini.

(Fr. Marcelino Ronaldo)

 ‘Sebab itu orang-orang yang mengejar aku akan tersandung jatuh dan mereka tidak dapat berbuat apa-apa” (Yer. 20:11b)

Marilah berdoa:

Tuhan lindungilah kami yang senantiasa bersandar kepada-Mu. Amin

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here