“Konflik karena Ketidakpahaman”: Renungan, Kamis 2 April 2020

0
560

Hari Biasa Pekan V Prapaskah (U)

Kej.17:3-9; Mzm. 105:4-5,6-7,8-9; Yoh. 8:51-59.

Dalam kehidupan kita, tidak jarang kita mengalami konflik dengan sesama. Konflik tersebut terjadi bukan hanya karena niat buruk kita, melainkan niat baik kita tidak dapat dipahami oleh orang lain. Kita berusaha untuk memberikan yang terbaik, kita berusaha untuk menjelaskan tentang kebenaran, namun tidak dapat dipahami oleh orang lain. Kurangnya pemahaman sedemikian, akhirnya menimbulak konflik. Lebih parahnya lagi ketika salah paham sudah diklarifikasi, tetapi pihak lain tetap tidak mau menerimanya, sehingga konflik tidak berujung

Injil hari ini mengisahkan tentang hal yang sama yakni konflik antara Yesus dan orang Yahudi. Yesus mewartakan tentang kebenaran yakni keselamatan kekal, namun tidak dipahami oleh orang banyak. Yesus mengajarkan bahwa; “sesungguhnya barangsiapa menuruti firman-Ku, ia tidak akan mengalami maut sampai selama-lamanya”. Perkataan Yesus ini bukannya dipahami dan diterima, melainkan Yesus dianggap kerasukan setan oleh orang Yahudi yang mendengar pewartaan Yesus pada saat itu. Ia mengatakan demikian karena sabda-Nya benar-benar berasal dari Allah. Sekalipun Yesus berulang-kali berbicara tentang kebenaran, tetap saja Ia ditolak karena ketidakpahaman orang Yahudi akan perkataan-Nya. Malahan Yesus hendak dilempari dengan batu ketika Ia mengatakan bahwa; “sesungguhnya sebelum Abraham jadi, Aku telah ada.”

Hidup ini tidak terlepas dari salah paham atau kesalahpahaman. Sering kali kita mengalami hal demikian karena iman kita akan Kristus. Pada waktu tertentu kita ingin menolong sesama yang sedang kesusahan. Perbuatan baik tersebut tidak diterima oleh orang lain, karena bisa saja dianggap cari muka ataukah ingin menunjukan kekayaan atau kelebihan. Sekalipun yang kita lakukan adalah baik dari lubuk hati yang dalam, namun belum tentu diterima baik oleh orang lain.

Melalui Injil hari ini, Yesus mengajarkan kepada kita bahwa iman itu bukan sekedar mengetahui tetapi benar-benar memahaminya. Kita tidak perlu takut berbuat baik kepada sesama, sekalipun perbuatan itu sering kali ditolak oleh orang lain. Yesus juga menegur sikap kita yang mudah berpikiran negatif terhadap sesama. Memiliki pemahaman yang benar akan Kristus, dapat mengantar kita pada keselamatan yang ditawarkan oleh Kristus sendiri kepada kita.

(Fr. Sakbal Rhio)

“Sesungguhnya barangsiapa menuruti firman-Ku, ia tidak akan mengalami maut sampai selama-lamanya” (Yoh 8:51)

Marilah Berdoa:

Ya Tuhan, berkatilah hamba-Mu ini agar selalu mampu melaksanakan perintah-Mu dan tidak mudah salah paham terhadap sesama.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here