“Menjadi Musa Zaman Now”: Renungan, Kamis 26 Maret 2020

0
610

Hari Biasa Pekan IV Prapaskah (U)

Kel. 32:7-14; Mzm. 106:19-20,21-22,23; Yoh. 5:31-47

Bacaan-bacaan Kitab Suci hari ini menghadirkan dua tokoh besar dan inspiratif yang melakukan kehendak Allah Bapa. Pertama adalah Musa. Bacaan pertama menggambarkan tingkah laku bangsa Israel yang menduakan Tuhan. Hal itu terjadi ketika mereka mulai gelisah, manakala Musa sudah tidak turun lagi dari gunung Sinai. Harapan mereka seketika pudar oleh karena gelisahan dan ketidak percayaan mereka pada Musa. Mereka pikir Musa mungkin sudah binasa di atas gunung Sinai itu, sehingga tidak ada lagi yang memimpin mereka dan pupuslah sudah harapan besar mereka akan Tanah Terjanji.

Kegelisahan dan hilang harapan itu akhirnya memunculkan permintaan kepada Harun, Buatlah allah-allah bagi kami”. Rupanya orang Israel belum menerima Allah yang diwartakan Musa. Mereka lebih percaya kepada allah-allah yang mereka ciptakan sendiri; yang membuat mereka nyaman dan menghilangkan kegelisahan mereka.

Kedua adalah Tuhan Yesus Kristus. Rupanya pengalaman Yesus mirip dengan pengalaman Musa. Orang-orang yang mengikuti Yesus dan menyaksikan pekerjaan-pekerjaan Bapa di dalam diri Yesus, ternyata masih belum percaya kepada-Nya. Banyak mujizat dan kebaikan yang telah mereka saksikan dari Yesus. Tetapi, mereka masih lagi menuntut tanda-tanda tertentu.

Padahal mereka sudah mendengar kesaksian Yohanes Pembaptis, nabi yang mereka percaya itu, bahwa Yesus adalah Penebus. Kemudian Sabda Tuhan dari Kitab  Suci yang mengacu kepada-Nya. Semua kesaksian ini sudah ada dan mereka tahu, tetapi hati mereka tetap tertutup pada Yesus.

Kadang kala kita juga berlaku seperti orang-orang Israel dalam bacaan Kitab Suci pada hari ini. Di tengah hilangnya harapan dan dilanda derita yang menekan, kita mulai mempertanyakan Tuhan. Di tengah tekanan itu, bersamaan itu pula iman kita akan Tuhan pudar. Kita akhirnya lari pada allah-allah yang kita ciptakan sendiri, yang dengannya membuat kita nyaman.  Uang, material, kekuasaan, kenikmatan, nafsu, popularitas, adalah allah-allah masa kini yang menghambat kita untuk mencapai Allah yang benar.

Padahal kita banyak sekali menerima berkat dan kasih Tuhan dalam hidup kita yang tanpa kita sadari. Nafas kehidupan yang kita hirup setiap detik adalah salah satu contoh kebaikan Tuhan Sang empunya kehidupan. Menjadi pertanyaan reflektif bagi kita, dapatkah kita seperti Musa-musa zaman now yang mau membakar allah-allah buatan manusia yang meninabobokan iman Kita?

(Fr. Ignatius Kisa)

“Kamu telah mengirim utusan kepada Yohanes dan ia telah bersaksi tentang kebenaran” (Yoh. 5:33)

Marilah berdoa:

Ya Tuhan Yesus, sumber harapan kami, bantulah kami dalam menapaki lembah dunia yang fana ini. Amin. 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here