“Kesetiaan dalam Iman”: Renungan, Rabu 25 Maret 2020

0
811

Hari Raya Kabar Sukacita (P)

Yes. 7:10-14; 8:10; Mzm. 40:7-8a,8b-9,10,11; Ibr. 10:4-10; Luk. 1:26-38        

Setiap orang pasti akan sangat gembira ketika menerima kabar yang menyenangkan hati. Entah itu dari keluarga, sahabat, maupun kerabat dekat.

Saudara-saudari terkasih, menerima berita gembira merupakan suatu peristiwa yang dapat mempengaruhi suasana hati kita, dan bahkan kehidupan kita. Orang yang menyuarakan kabar baik bagi banyak orang pun bisa merasakan suasana sukacita di dalam hatinya.

Seperti yang dikatakan oleh Nabi Yesaya kepada Raja Ahas yang kurang percaya  bahwa dalam keluarga Daud akan ada seorang perempuan yang akan mengandung seorang anak laki-laki ialah Sang Penyelamat. Sungguh besar sukacita yang ada dalam hati Raja Ahas saat itu.

Dari peristiwa ini manusia diajak untuk bermenung dalam suatu keyakinan pada janji Allah. Keselamatan pasti akan dinubuatkan bagi umat manusia. Sebagaimana juga dalam surat untuk jemaat di Ibrani dikatakan bahwa kedatangan Yesus Sang Penyelamat akan selalu terwujud dalam kehidupan manusia yang percaya akan janji Allah.

Bacaan Injil juga mengajak kita untuk bermenung lebih dalam lagi mengenai makna dari Kabar Sukacita dari Malaikat Gabriel kepada Bunda Maria. Pesan dari malaikat Gabriel kepada Bunda Maria memiliki banyak makna dalam perjalanan iman kita. Bunda Maria sebagai Bunda Gereja telah menunjukkan teladan yang benar bagi kita dalam hal kesetiaan akan janji Allah.

Kabar sukacita sejatinya tidak pernah jauh dalam kehidupan kita. Hanya saja kita kurang percaya akan besarnya Kasih Allah kepada kita lewat kehadiran Yesus Kristus yang lahir ke dunia seperti yang telah diberitakan oleh para Nabi. Dalam diri Maria terkandung kasih yang didasari oleh iman yang teguh. Ia mau menerima Kabar Sukacita sebagai suatu mandat terhormat dan tersuci dari Allah dengan penuh iman dan harapan.

Kita pasti sulit percaya dengan orang yang tiba-tiba datang dengan kabar yang indah mengenai masa depan kita. Maria memberikan kita contoh supaya kita tidak terus-terusan menjadi pribadi yang sulit percaya.

Umat yang terkasih, kabar sukacita yang kita dengarkan hari ini hendaklah selalu tertanam dalam hati kita, sebagai modal untuk menjalani kehidupan sehari-hari, dalam lingkup keluarga, masyarakat, dan Gereja. Teladan iman Maria selalu menyegarkan hati setiap orang yang mau mengambil bagian dalam karya keselamatan Allah bagi dunia. Semoga kita semua mau menerima kabar sukacita Allah dan menghayati serta menekuni iman kepercayaan kita.

(Fr. Marcelino Ronaldo)

“Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataan-Mu itu” (Luk. 1:38).

Marilah berdoa:

Tuhan, bantulah kami untuk beriman dan selalu percaya kepada-Mu seperti Bunda Maria. Amin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here