“Sumber Air Keselamatan”: Renungan, Selasa 24 Maret 2020

0
740

Hari Biasa Pekan IV Prapaskah (U)

Yeh. 47:1-9, 12; Mzm. 46:2-3, 5-6, 89; Yoh. 5:1-16

Saudara-saudari yang terkasih, dalam pembaptisan dan untuk tujuan penghapusan dosa manusia, Gereja selalu tak pernah lepas dengan materi dalam sakramen pembaptisan yaitu air murni yang telah disucikan. Air selalu menghantar manusia agar dapat dengan mudah memahami misteri penghapusan dosa dalam karya keselamatan Kristus melalui sakramen pembaptisan dalam Gereja.

Dalam bacaan pertama, keagungan Allah mau ditunjukkan kepada nabi Yehezkiel bahwa Allah merupakan sumber air kehidupan yang bahkan tiada habisnya dan juga tak terukur oleh manusia. Yehezkiel mendapat kesempatan untuk melihat bukti keagungan Allah tersebut untuk menghantar manusia agar percaya dengan sungguh-sungguh melihatnya. Akan tetapi hal itu merupakan suatu titik untuk menuju pada sesuatu yang lebih penting yakni untuk mencapai pertobatan bagi umat manusia.

Bacaan Injil sungguh jelas menampilkan jalan pertobatan tersebut dengan berpegang dan percaya kepada kehadiran Kristus dan karya keselamatan-Nya di dunia. Penyembuhan di kolam Betesda menjadi bukti bahwa Yesus merupakan sumber air keselamatan.

Ketika orang lumpuh disembuhkan dari penyakitnya, kita semua dihantar untuk menyadari betapa pentingnya kehadiran Yesus pada waktu itu. Kesembuhan tersebut sesungguhnya tak hanya memberi arti bahwa manusia disembuhkan dari penyakitnya saja. Akan tetapi manusia telah disembuhkan dan dibersihkan dari noda dosa yang dimilikinya. Untuk itu Yesus menjadi sumber air keselamatan yang kekal. Hal ini juga mau menunjukkan corak keilahian-Nya sebagai Putera Allah yang hidup. Keselamatan ini menghantar manusia pada kehidupan yang kekal bersama Allah sebagai sumber air kehidupan.

Maka dari itu, manusia pada dasarnya selalu dituntun oleh Yesus melalui kehadiran-Nya di dunia untuk selalu membina diri dan menuju pada pertobatan. Penghapusan dosa diharapkan menjadi buah keselamatan setelah manusia bertobat dari dosa-dosanya itu. Sehingga penting bagi kita untuk berusaha tidak berbuat dosa lagi dan melakukan kehendak Allah. Optimisme juga perlu untuk selalu dibangun agar menyadari pula bahwa manusia dalam keberdosaan apapun dapat juga diselamatkan, karena Allah merupakan sumber air keselamatan.

 (Fr. Valentino Wullur)

“Lalu ia menunjukkan kepadaku sungai air kehidupan, yang jernih bagaikan kristal, dan mengalir ke luar dari takhta Allah dan takhta Anak Domba itu” (Why. 22:1)

Marilah berdoa:

Ya Tuhan, hantarlah aku agar tetap terarah pada jalan keselamatan yang disediakan bagi orang yang bertobat dan yang melakukan kehendak Allah. Amin

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here