“Iman yang Dibuktikan”: Renungan, Senin 23 Maret 2020

0
678

Hari Biasa Pekan IV Prapaskah (U).

Yes. 65:17-21; Mzm. 30:2,4,5-6,1112a,13b; Yoh. 4:43-54. 

Pergumulan adalah peristiwa konkrit yang sering dialami oleh setiap manusia yang berjuang di dunia ini. Dalam pengalaman rohani, pergumulan dapat diartikan sebagai peristiwa iman. Peristiwa yang menghantar seseorang pada perjumpaan dengan Allah Maha Penolong. Tidak ada satu orang pun di dunia ini yang tidak pernah mengalami pergumulan hidup. Maka, pantaslah jika pergumulan ini dikaitkan dengan peristiwa iman. Tetapi, apakah orang harus selalu menyerah dalam persoalan-persoalan ini?

Bacaan Injil hari ini memberikan jawaban, bagaimana melewati persoalan-persoalan itu. Injil Yohanes mengisahkan tentang seorang pegawai istana yang meminta pertolongan kepada Yesus untuk menyembuhkan anaknya yang sedang sakit. Kisah ini menunjukkan bahwa pegawai istana ini sedang mengalami pergumulan hidup.

Ketika berjumpa dengan Yesus, orang itu memohon supaya anaknya disembuhkan. Pegawai istana itu berkata: “Tuhan, datanglah sebelum anakku mati”. Yesus berkata kepadanya: “Pergilah, anakmu hidup!” Seketika itu juga sembuhlah anak dari pegawai istana itu.

Tetapi di balik peristiwa itu, ada satu hal menarik yang pantas untuk direfleksikan, yakni “kesabaran”. Memang tidak terlihat secara eksplisit, tetapi secara implisit dapat dipahami. Kata ini terungkap lewat tindakan yang dilakukan oleh pegawai istana itu. “Ketika pegawai itu mendengar, bahwa Yesus telah datang dari Yudea ke Galilea, pergilah ia kepada-Nya, lalu meminta supaya Yesus datang dan menyembuhkan anaknya.” Tindakan itu menunjukkan kesabaran dan keyakinan penuh dari pegawai istana ini.

Namun, kesabaran ini disertai pula dengan persoalan-persoalan lain, seperti kesulitan dan kekuatiran. Tetapi, menghadapi persoalan hidup yang sedemikian sulit, ia ternyata  tidak lari atau takut menghadapinya, bahkan ia hanya menunggu satu pribadi untuk dapat menolongnya. Dialah Yesus Kristus. Mengapa? Karena ia percaya pada kuasa Allah, bahwa hanya Dialah yang dapat menyembuhkan anaknya yang sedang sakit.

Lewat keyakinan kepada Yesus serta kesabaran untuk menunggu kedatangan-Nya, akhirnya pegawai istana itu memperoleh buah-buah kebaikan. Selain kesembuhan bagi anaknya, pasti ada juga kebaikan-kebaikan lain yang diberikan oleh Allah kepadanya. Inilah sesungguhnya yang disebut sebagai peristiwa iman yang nyata atau iman yang dibuktikan tidak hanya lewat perkataan tetapi juga lewat perbuatan.

Dengan kepercayaan dan keyakinan, bahwa Tuhan ada bersama-sama dengan kita, pasti segala persoalan hidup akan terlewati. Allah adalah Dia yang setia akan janji-Nya. Dia bukanlah Allah yang mengingkari, karena Ia tidak dapat menyangkal diri-Nya.

(Fr. Chrisanctus Sadrack)

 “Maka kata Yesus kepadanya: “Jika kamu tidak melihat tanda dan mujizat, kamu tidak percaya”” (Yoh. 4:48).

Marilah Berdoa:

Ya Allah, berikanlah aku kekuatan untuk memegang teguh imanku dan berani melaksanakannya. Amin

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here