“Menyangkal Diri dan Memikul Salib”: Renungan, Kamis 27 Februari 2020

0
755

Kamis ses Rabu Abu (U)

Ul. 30:15-20; Mzm. 1:12,3,4,6; Luk. 9:22-25. 

Ada pepatah tradisional yang banyak kali kita dengar dan pepatah itu dapat dipadukan dengan semangat Yesus, “Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian; bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian”. Cocok bukan? Kebahagiaan yang dicapai secara instan tidak banyak mendidik diri kita. Sebaliknya, bila kita mau menderita terlebih dahulu, seluruh potensi diri kita pun ditantang untuk kita kembangkan dan sekaligus mampu menghadapi rintangan demi rintangan yang mungkin menghambat diri kita.

Setiap orang pasti mengambil bagian dalam tugas menjadi murid Kristus sesuai dengan bidang masing-masing. Orang tua yang baik dengan rela dan gembira menghidupi dan mendampingi perkembangan anak-anak mereka meskipun dituntut banyak pengorbanan yang membatasi kebebasan mereka. Seorang imam, biarawan-biarawati siap diutus kemana saja untuk melayani sesama yang membutuhkan. Meski medan pekerjaan tidak selalu gampang, namun kesetiaan mengikuti jalan Tuhan untuk memberikan pengharapan, iman, dan cinta bagi semua orang. Seorang ahli medis tentu siap menolong pasien yang mengetuk pintu rumahnya di malam hari. Menjadi murid Kristus yang demikian adalah pilihan pribadi. Jika kita menanggapi kasih Allah, hidup dalam relasi dengan Yesus, mengingkari diri dan mengangkat salib sehari-hari, maka kita akan hidup.

Yesus mengajar kita hari ini. Jika kita ingin menjadi murid-Nya kita harus menyangkal diri, memikul salib dan mengikuti Yesus. Secara sederhana, menyangkal diri berarti meninggalkan sifat egois dan lebih mementingkan kepentingan bersama. Memikul salib berarti menyatukan suka duka hidup pada salib Yesus. Kedua hal ini harus kita jalankan ketika mengikuti Yesus.

Yesus hari ini juga menasehati kita, “Apa gunanya kamu memperoleh seluruh dunia, tetapi dirinya binasa?”. Kekayaan memang tidak membinasakan seseorang, tetapi bisa membuat orang kehilangan kebahagiaan, ketenangan, kedamaian, keharmonisan. Orang juga boleh mencari kekayaan semaksimal mungkin, tetapi jangan sampai kehilangan yang menjadi sumber hidup kita yaitu Yesus. Kalau orang mempunyai kekayaan dan segalanya yang di dunia tetapi meninggalkan Yesus, ia akan binasa. Tetapi kalau ia memiliki dan mengimani Yesus, kekayaan akan menjadi berkat bagi dirinya dan sesama.

Saudara terkasih, mari memaknai Masa Pra paskah dengan belajar mengikuti cara hidup Yesus dengan berbagi kasih, kepedulian, solidaritas dan keadilan terhadap siapa saja yang kita jumpai. Semoga setiap apa pun keputusan yang kita ambil membawa kebaikan bukan saja kepada kita melainkan juga kepada orang lain dan berkenan kepada Tuhan.  

(Fr. Aldo Adelbert Oping)

Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku” (Luk. 9:23).

Marilah berdoa:

Ya Allah, berikanlah aku hati yang selalu terbuka kepada-Mu, agar aku dapat menyangkal diri dan memikul salib demi keselamatanku. Amin  

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here