“Berbalik Kepada Allah”: Renungan, Rabu 26 Februari 2020

0
1229

Hari Rabu Abu (U)

Yl. 2:12-18; Mzm. 51:3-4,5-6a,12-13,14,17; 2Kor. 5:20 – 6:2; Mat. 6:1-6,16-18.

“Tetapi sekarang juga,” demikianlah firman Tuhan, “berbaliklah kepada-Ku dengan segenap hatimu, dengan berpuasa, dengan menangis dan dengan mengaduh.”

Hari ini, Gereja merayakan hari Rabu Abu. Hari ini menjadi awal dari masa Pra paskah, masa untuk pertobatan. Kembali lagi kita diajak untuk berbenah diri dengan melihat ke dalam diri kita, menyadari segala dosa kita dan bertobat. Supaya, kita semua menjadi layak untuk mengalami penebusan Kristus, dan merayakan Paskah, hari kemenangan-Nya atas dosa dan maut.

Nabi Yoel, dalam bacaan yang pertama, menyerukan pertobatan kepada umat Allah. Ia memperingatkan mereka untuk bertobat dari kedosaan mereka dan kembali kepada Allah. Allah Mahapengasih, tangan-Nya selalu terbuka untuk merangkul orang-orang yang mau bertobat. Ia hanya mengharapkan adanya pertobatan dari umat-Nya. Ketika mereka dengan berani mengakui dosa mereka dan memohon belas kasih kerahiman-Nya, Allah pasti akan menerima mereka kembali.

Dalam Injil, Yesus mengajak kita untuk tidak melakukan kewajiban agama demi berbagai tujuan khusus yang menguntungkan diri kita. Jangan kita bertindak seperti orang berdosa atau orang munafik. Mereka melakukan kewajiban agamanya, supaya dilihat orang dan mendatangkan pujian bagi mereka sendiri. Tindakan pribadi mereka pun terkadang mereka lakukan dengan mengatasnamakan agama. Yesus mengajarkan kita supaya senantiasa melakukan sesuatu dengan benar serta sesuai dengan kehendak Allah. Ia mengajarkan pola hidup yang benar sebagai pengikut-Nya.

Rasul Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Korintus berpesan kepada mereka supaya mereka memberi diri mereka didamaikan dengan Allah. Ia mengajak mereka juga untuk bertobat. Dengan demikian, kasih karunia Allah tidak menjadi sia-sia. Yesus telah mati untuk menebus dosa manusia. Dosa semua orang ditanggungkan kepadanya, supaya semua orang bisa memperoleh keselamatan. Namun, jika orang terus kembali menjatuhkan diri ke dalam dosa, tentu keselamatan itu, akan semakin jauh dari mereka.

Selain diajak bertobat, pada hari ini kita diingatkan juga untuk berpuasa dan berpantang. Tindakan ini juga merupakan bagian dari usaha kita untuk bertobat. Kesediaan kita untuk berpuasa dan berpantang, menunjukkan juga keseriusan kita untuk mau bertobat dan kembali kepada Allah. Puasa dan pantang yang dimaksudkan di sini, bukan bertujuan untuk menyiksa diri kita. Kita diajak untuk mengurangi keinginan-keinginan yang berlebih dan membuka diri untuk membantu sesama yang membutuhkan.

(Redaksi Lentera Jiwa)

“Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah” (2Kor. 5:21).

Marilah berdoa:

Ya Alah, bantulah kami untuk bertobat dan mengikuti jalan kebenaran-Mu. Amin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here