“Keserakahan Duniawi”: Renungan, Selasa 25 Februari 2020

0
748

Hari Biasa (H)

Yak. 4:1-10; Mzm. 55:7-8,9-10a,10b-11a,10b-11a,23; Mrk. 9:30-37

Banyak orang di dunia ini ingin menjadi yang terdepan, yang tertinggi, yang terdahulu dan terpandang dari orang-orang di sekitarnya. Ia akan merasa cemburu dan iri hati bila ada orang yang ingin menandinginya. Ia selalu tidak puas dengan apa yang telah diperolehnya dan selalu ingin lebih. Itulah gejolak-gejolak yang ada dalam diri manusia.

Bacaan-bacaan Kitab Suci pada hari ini mau mengingatkan kita bahwa hal-hal mengenai jabatan dan kedudukan merupakan hal-hal duniawi yang tidak menjadi bekal untuk masuk dalam Kerajaan Surga. Bacaan pertama dengan jelas menegaskan bahwa setiap orang yang meminta atau berdoa hanya untuk memenuhi hawa nafsu akan mendatangkan kebinasaan bagi dirinya sendiri. Kamu menginginkan sesuatu tetapi kamu tidak memperolehnya lalu kamu membunuh (Yak 4:2a).

Sering kali orang memperebutkan kedudukan demi kesohoran namanya. Hal ini pun terjadi dalam kehidupan para murid Yesus ketika mereka memperdebatkan siapa yang terbesar di antara mereka dalam perjalanan ke Kapernaum. Yesus langsung menegur para murid dengan mengatakan: “Jika seseorang ingin menjadi yang terdahulu, hendaknya ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan pelayan dari semuanya” (Mrk. 9:35b).

Yesus mau mengajarkan para murid-Nya dan kita sekalian bahwa menginginkan hal-hal yang bersifat duniawi sering membuat kita jatuh dalam dosa meskipun kita tidak menyadarinya. Semakin kita menginginkan dan mengejar hal duniawi semakin kita menjauhkan diri dari Tuhan. Yesus menginginkan agar kita tidak hanya fokus pada hal duniawi tetapi menyiapkan bekal surgawi. Mengikuti Yesus berarti tidak ada yang terbesar dan terkecil, semuanya sama di hadapan-Nya. Ketika kita menghadap-Nya, bukanlah kedudukan dan jabatan yang akan ditanyakan tetapi seberapa banyak perbuatan baik yang telah kita lakukan ketika hidup di dunia ini.

Marilah melalui bacaan-bacaan pada hari ini kita mencari kehidupan surgawi untuk menjadi bekal ketika kita menghadap Allah. Kehidupan surgawi dapat ditemukan dalam diri kita jika di dalamnya tidak ada kebencian, iri hati, ingin menjadi yang terdepan, dan sebagainya. Kita mendekatkan diri kepada Tuhan, berdoa kepada Tuhan untuk dapat menjadi orang yang rendah hati, yang tidak hanya mementingkan harta benda duniawi saja. Marilah kita dengan rendah hati kita membantu sesama yang membutuhkan, meninggalkan kecemasan duniawi untuk menjadi yang terdahulu mengikuti Yesus.

 (Fr. Petrus Ndemu)

“Tunduklah kepada Allah, dan lawanlah iblis, maka ia akan lari dari padamu” (Yak.  4:7)

Marilah Berdoa:

Tuhan, ajarlah aku untuk berani meninggalkan kecongkakan duniawi dan tetap rendah hati. Amin

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here