“Relasi Ilahi”: Renungan, Minggu 16 Februari 2020

0
1022

Hari Minggu Biasa VI (H)

Sir.15:15-20; Mzm.119:1-2,45,17-18,33-34; 1 Kor.2:6-10, Mat.5:17-37

Relasi yang baik akan berpuncak pada kesatuan. Sebaliknya, relasi yang tidak baik akan berujung pada perpecahan. Apa gunanya membangun relasi jika berujung pada perpecahan? Tentu bukan menjadi harapan seseorang. Bahkan bukan impian Tuhan ketika membangun relasi dengan manusia.

Dosa menjadi penyebab utama perpecahan itu. Relasi manusia dengan Tuhan hancur karena dosa. Dosa yang menyebabkan Yesus wafat di salib. Kitab Putra Sirakh telah menegaskan betapa Tuhan tidak menyuruh orang menjadi fasik dan tidak memberi izin kepada siapa pun untuk berdosa (bdk. Sir.15:20). Betapa mulia kehendak-Nya. Kesatuan manusia dengan Allah sungguh menjadi dambaan umat beriman. Allah saja tidak menghendaki dosa itu, mengapa kita masih berdosa?

Itu semua karena kehendak bebas manusia. Karena keegoisan dan kesombongan manusia. Injil hari ini mengajarkan dengan jelas betapa relasi itu perlu dipulihkan. Pertama-tama relasi dengan sesama dan kemudian relasi dengan Tuhan. Karena itu Yesus menegaskan bahwa satu iota atau satu titik pun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat (bdk. Mat.5:18). Yesus hadir untuk menggenapi semua itu. Maka dengan jelas Yesus mengajak umat-Nya untuk berdamai dengan lawan sebelum mempersembahkan persembahan kepada Allah. Persembahan yang diberikan dari hati yang bersih dan tulus.

Betapa pentingnya pemurnian diri dan keutuhan relasi dengan sesama. Kesatuan yang damai dengan sesama menjadi bekal yang baik untuk menghadap Allah dan memurnikan relasi dengan Allah. Relasi itu akan tetap utuh jika tidak ada lagi dosa di dalam diri. Itulah hikmat yang benar yang dijanjikan Allah untuk umat-Nya. Rasul Paulus dengan tegas menyatakan bahwa segala sesuatu telah disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia. Tanpa ada hikmat Allah hidup manusia tidak berarti apa-apa.

Relasi ilahi adalah relasi yang didasarkan pada kasih. Dosa menjadi pemicu rusaknya relasi itu. Kehidupan kita juga diwarnai dengan beragam pandangan dan penilaian dalam relasi dengan sesama. Perlu kesadaran dalam diri apakah relasi selama ini didasarkan pada kasih? Atau malahan sebaliknya tetap bertahan dalam keegoisan dan kehendak sendiri. Allah sama sekali tidak menghendaki relasi kita dengan-Nya hancur. Allah memanggil kita pada kasih-Nya dan bukan tenggelam dalam dosa. Mari bangkit! Menjalin relasi yang baik dengan Allah yang didasarkan pada kasih. Niscaya hikmat Allah yang telah disediakan bagi kemuliaan kita akan menjadi nyata.

(Fr. Dkn. Made Pantyasa)

“Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar daripada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga” (Mat. 5:20).

Marilah Berdoa:

Ya Tuhan, bantulah kami agar selalu hidup dalam kasih-Mu. Amin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here