”Mendengar dan Mewartakan Sabda Tuhan”: Renungan, Jumat 14 Februari 2020

0
1208

PW S. Sirilus, Prtp dan Metodius, Usk (P)

1Raj. 11:29-32;12:19; Mzm. 81:10-11ab,12-13,14-15; Mrk. 7:31-37

Orang yang tuli berarti tidak bisa mendengar apapun. Orang tuli pasti merasa terisolasi karena kondisinya yang membuatnya sulit untuk berinteraksi dan berkomunikasi dengan orang lain.

Bacaan Injil hari ini mengisahkan mujizat penyembuhan yang dilakukan oleh Yesus terhadap seorang yang tuli di daerah Dekapolis. Lewat tindakan itu, Yesus menunjukkan keprihatinan-Nya terhadap keadaan memilukan dari orang tuli itu. Kisah tentang orang tuli itu hendak mengingatkan kita akan diri kita sendiri. Mungkin kita merasa bahwa kita tidak tuli. Kita bisa mendengar suara-suara di sekitar kita. Satu yang perlu disadari, tuli bukan saja menyangkut pendengaran lewat telinga. Tetapi juga lewat hati.

Pertanyaannya, apakah hati kita juga tidak tuli? Sepertinya banyak dari kita yang masih memiliki hati yang tertutup untuk mendengar segala persoalan di sekitar kita. Jadi, kita perlu mencontoh si tuli dalam bacaan Injil hari ini, yang berusaha mencari pertolongan, dan memohon kepada Yesus untuk disembuhkan. Kita harus percaya bahwa Yesus pasti akan menyembuhkan kita. Tentunya, hanya dengan hati yang sehat kita dapat mendengarkan sabda Yesus dan memberi kesaksian yang benar mengenai hal itu.

Hari ini secara khusus Gereja memperingati Santo Sirilus dan Metodius. Mereka berdua juga mengalami hambatan bagaimana harus mewartakan Injil berdasarkan konteks budaya dan bahasa di tempat mereka mewartakan Injil. Injil hari ini menunjukkan kepedulian yang dilakukan oleh Yesus terhadap orang tuli yang memohon bantuan kesembuhan dari-Nya. Yesus tidak menutupi diri untuk peka terhadap kesembuhan orang tuli itu, karena Yesus tahu niat baik dari orang tuli itu yang ingin sembuh supaya bisa mendengarkan sabda Tuhan. Yesus bukan hanya menyembuhkan telinga dan lidahnya, tetapi juga hatinya.

Yesus mau menyembuhkan orang tuli itu, karena Ia tahu bahwa semua orang yang hendak menjadi pewarta terlebih dahulu harus mampu menjadi pendengar-Nya yang setia. Itulah sebabnya Yesus menyembuhkan telinga orang itu agar bisa mendengar barulah Yesus menyembuhkan lidahnya agar bisa berbicara. Orang harus bisa mendengarkan dahulu sabda Tuhan baru dapat mewartakannya. Biarlah diri kita dituntun oleh Sabda-Nya untuk menapaki jalan hidup yang dikehendaki-Nya serta berani mewartakan Sabda-Nya kepada seluruh bangsa.

(Fr. Vitalis Irman Bille)

“Mereka takjub dan tercengang dan berkata:”Ia menjadikan segala-galanya baik, yang tuli mendengar, yang bisu dijadikan-Nya berkata-kata” (Mrk. 7:37).

Marilah berdoa:

Tuhan, bukalah telinga hatiku untuk mampu mendengarkan, menghayati dan mewartakan sabda-Mu. Amin

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here