“Bijaklah dalam Mendengar”: Renungan, Rabu 12 Februari 2020

0
846

Hari Biasa (H)

1 Raj.10:1-10; Mzm. 37:5-6, 30-31, 39-40; Mrk. 7 :14-23

Cara orang menanggapi sabda Tuhan yaitu dengan mendengar Sabda Tuhan. Dalam Bacaan Injil Yesus menegaskan bahwa “barangsiapa bertelinga untuk mendengarkan hendaklah ia mendengarkan”.

Seruan Yesus ini memanggil kita untuk lebih banyak mendengarkan suara Tuhan daripada banyak bercerita tentang Tuhan tetapi tidak melaksanakan sabda Tuhan. Orang yang banyak mendengarkan  adalah orang yang mampu menghargai setiap perkataan apalagi perkataan dari Tuhan. Yesus telah memberikan kunci kepada kita  serta penjelasan tentang sebuah kenajisan yaitu bahwa apa yang keluar dari mulut seseorang itulah yang najis bukan apa yang masuk ke dalam mulut seseorang. Karena apa yang keluar adalah apa yang berasal dari dalam hati.  Dari dalam hati munculah segala bentuk kejahatan.

Yesus menegaskan dengan kata “camkanlah” ini menandakan bahwa Yesus menegaskan agar kita mampu mendengar sabda penyelamatan-Nya agar kita jangan jatuh ke dalam dosa. Simpelnya ketika kita tidak mampu mendengarkan suara Tuhan berarti kita sedang berada di posisi gelap, dimana panggilan Tuhan itu kabur dan bahkan nyaris tidak terdengar. Yesus mau kita untuk mendengarkan dan memahaminya serta percaya akan sabda-Nya.

Dalam bacaan pertama juga ditampilkan bahwa ratu dari negeri Syeba adalah seorang yang baik. Tetapi dia  bukanlah seorang yang mudah percaya. Salomo adalah seorang yang bijaksana yang kebijaksanaannya didapatkan dari Tuhan. Menjadi hal yang dipertanyakannya apakah memang benar bahwa Salomo berelasi dengan Tuhan dan mau menyembah Tuhan.

Hal yang serupa terkadang kita alami. Terkadang kita menjadi seperti dengan Ratu Negeri Syeba yang mampu mendengar tetapi kurang percaya. Sering kita mempertanyakan apakah dengan mendengarkan dan melaksanakan sabda Tuhan dapat menyelamatkan kita. Kita sering ingin melihat  tanda yang jelas dan konkrit. Sebenarnya  Tuhan telah memberi tanda, Tuhan telah memanggil kita melalui segala bentuk peristiwa, tetapi kita terkadang seperti Ratu yang sudah mampu mendengarkan tetapi belum mampu percaya. Terkadang kita belum yakin akan suara Tuhan yang memanggil kita karena kita sulit untuk mendengar dan memahami-Nya. Telinga kita masih tertutup oleh hal-hal duniawi.

Marilah sebagai orang yang percaya, kita menjadi orang yang mampu mendengar panggilan Tuhan dalam setiap pengalaman hidup kita sebagai tanda bahwa Tuhan ingin menyelamatkan kita.

(Fr. Oktovianus Siunta)

“Barang siapa Bertelinga untuk mendengar hendaklah ia mendengar” (Mrk. 7:16).

Marilah Berdoa:

Ya Tuhan, mampukan kami dalam mendengar dan melaksanakan Sabda-Mu. Karena terkadang kami sulit mendengar, bahkan kami sudah mendengar tetapi kami kurang percaya. Amin

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here