“Kuasa Tuhan Yang Besar”: Renungan, Rabu 22 Januari 2020

0
1361

Hari Biasa (H)

1 Sam 17:32-33,37,40-51; Mzm. 144:1,2,9-10; Mrk 3:1-6

Saudara-saudari yang terkasih. Dalam sebuah organisasi pasti dibentuk struktur organisasi mulai dari ketua, wakil, sekretaris, bendahara, dan jajarannya. Ketua mempunyai peran yang penting dalam mengkoordinir berjalannya organisasi tersebut. Dengan kekuasaan inilah, maka Ia berhak mengatur dan memerintah sesuai dengan apa yang diterapkan dalam organisasi itu. Ia akan berusaha agar organisasi itu dapat berjalan dengan baik sesuai dengan harapan bersama.

Dalam bacaan pertama dikatakan bahwa Goliath mendatangi Daud dengan pedang dan tombak dan lembing tetapi Daud mendatangi Goliath dengan nama Tuhan semesta alam. Jika dikaitkan dengan bacaan Injil, maka dapat dicermati bahwa bacaan Injil menjadi penggenap bacaan pertama. Sebab dalam Injil diceritakan bahwa Yesus menyembuhkan seorang yang mati sebelah tangan dengan berkata: Ulurkanlah tanganmu, dan Ia mengulurkan tangan maka sembuhlah tangannya itu.

Dalam kuasa manusiawi dan duniawinya, orang tak dapat memperoleh ketenangan bahkan keselamatan dalam hidupnya. Kecenderungan manusiawi membawa manusia pada sikap ingin menang sendiri dan tak mau berbagi. Sebaliknya dengan kuasa Tuhanlah maka segala sesuatu dapat digenapi. Namun kuasa Tuhan tidak hanya datang dengan sendirinya tanpa mengandalkan iman dan kepercayaan. Oleh sebab itu beriman menjadi dasar bagi hadirnya kuasa Allah itu.

Saudara-saudari yang terkasih dalam Tuhan, jika iman merupakan dasar atau landasan bagi hidup kita, maka semakin besar iman kita, semakin kuat pula keyakinan kita kepada Tuhan. Iman itulah yang akan meneguhkan, menguatkan, menghadirkan berkat dan rahmat, dan kita akan diselamatkan. Kesia-siaan dan kekosongan terjadi apabila iman kita tidak sejalan dengan tindakan atau perbuatan nyata.

Kita harus memikirkan apa yang hendak kita lakukan dan mewujud-nyatakannya sebagai upaya pengembangan iman kita. Sehingga dengan demikian, iman kita berlangsung sejalan dengan harapan dan kehendak Tuhan bagi kita. Kita tidak hanya meminta, tetapi juga harus memberi. Kita tidak hanya berharap, tetapi kita juga melakukan.

Percayalah bahwa rahmat Tuhan itu akan selalu ada apabila kita melakukan apa yang dikehendaki oleh Tuhan. Misalnya berbuat baik kepada sesama, saling membantu, saling mendukung, dan menghindari keegoisan. Semoga rahmat dan kuasa Allah menyertai kita sekalian.

(Paulus Wenehen)

“Ya Allah, aku hendak menyanyikan nyanyian baru bagi-Mu, dengan gambus sepuluh tali aku hendak bermazmur bagi-Mu” (Mzm.144:9).

Marilah Berdoa:

Ya Allah, semoga imanku kepada-Mu senantiasa menghadirkan rahmat dan berkat bagi diriku dan sesamaku. Amin

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here