“Ingin Mencintai”: Renungan, Selasa 21 Januari 2020

0
1691

Pw. St. Agnes, PrwMrt (M)

1 Sam. 16;1-13; Mzm. 89;20.21-22,27-28; Mrk. 2:23-28

Ada seorang pemuda yang sangat saleh hidup. Ia begitu rajin dalam hal berdoa, membaca Kitab Suci, dan melakukan perbuatan amal kasih. Namun akhir-akhir ini ia mengaku mengalami keraguan dalam imannya dan benci akan hidup. Terkadang dalam hatinya selalu muncul keraguan yang besar. Menurutnya, hal yang sangat mengganjal hatinya adalah apakah Yesus itu Tuhan?

Pengakuan pemuda ini juga menjadi gambaran iman bagi semua orang. Orang bisa saja rajin berdoa, membaca Kitab Suci, kuat dalam kehidupan devosional, dan bahkan aktif dalam setiap kelompok kategorial, namun belum tentu merasakan bahwa Yesus adalah pribadi yang dibutuhkan dalam hidup. Orang bisa merasa dekat dengan Yesus meskipun sebenarnya jauh dari Yesus. Orang merasa akrab dengan Yesus hanya di bibir saja sedangkan di hatinya tidak ada tempat.

Dalam bacaan Injil, Hari Sabat adalah hari istirahat bagi semua orang Yahudi. Mereka selalu berpegang teguh pada peraturan dan ketetapan dari Tuhan. Dalam tradisi Yahudi, tindakan memetik dan mengolah makanan, tentu itu melanggar hari Sabat. Kesempatan ini digunakan oleh kaum Farisi untuk mencela Yesus. Karena bagi mereka, Yesus dan para murid telah melanggar Hukum Turat. Akan tetapi Yesus menggunakan kesempatan ini untuk menunjukkan jati diri-Nya kepada kaum Farisi maupun para murid.

Kisah Injil ini sebenarnya membuka keraguan iman kita semua yang terkadang dalam hidup bersama pun selalu ada keraguan. Ada saja kecenderungan untuk memilih prinsip suka atau tidak suka. Berkeluarga atau hidup Membiarapun memiliki pilihan sendiri.

Dalam bacaan pertama, kita belajar bagaimana Tuhan memilih Daud sesuai dengan kehendak-Nya. Samuel saja nyaris keliru ketika menggunakan perasaan manusiawinya untuk memilih anak-anak Isai sesuai kesukaannya menjadi Raja Israel. Namun Tuhan ikut terlibat meluruskan pikiran Samuel sehingga memilih bukan berdasarkan prinsip suka dan tidak suka, tetapi berdasarkan kehendak Tuhan.

Pada Pesta Santa Agnes, Perawan dan Martir, kita patut mencontohi teladan cintanya akan Yesus tanpa ragu. Baginya, mencintai Yesus tanpa ragu itu dapat menyegarkan kehidupan, menampakkan kegunaan, serta menguatkan kerapuhan. Hari ini pula, kita patut berbangga karena Tuhan telah membaharui hidup kita dengan cinta-Nya yang tak terbatas. Dia adalah Tuhan kita Yesus Kristus Sang Juruselamat umat manusia.

(Rano Ngoranmele)

“Hari Sabat diadakan untuk manusia dan bukan manusia untuk hari Sabat, jadi Anak Manusia adalah juga Tuhan atas hari Sabat” (Mrk. 2:27-28).

Marilah Berdoa:

Ya Tuhan, terangilah hati serta budiku agar selalu mencintai-Mu tanpa merasa ragu. Amin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here