“Mencari Kehendak Allah”: Renungan, Senin 20 Januari 2020

0
972

Hari Biasa (H)

1 Sam. 15:16-23; Mzm. 50:8-9,16bc-17,21,23; Mrk. 2:18-22

Relasi dengan Allah sebenarnya didasari oleh sebuah undangan. Hidup manusia tergantung pada besarnya tanggapan atas tawaran tersebut. Bacaan pertama mengisahkan tentang Saul yang ditolak oleh Allah untuk menjadi raja. Alasannya karena Saul tidak mengindahkan perintah Tuhan Allahnya. Saul memang melakukan tugas yang diperintahkan Tuhan kepadanya, yakni menumpas orang Amalek. Tetapi Saul melupakan satu hal penting yang harus ia laksanakan dalam tugasnya, yakni ‘penyerahan hati’. Saul menumpas para orang Amalek dan mengambil jarahan untuk dipersembahkan sebagai korban kepada Tuhan. Korban itu tidak pantas bagi Tuhan Allah, karena ‘hati manusialah yang menjadi korban sejati bagi Tuhan Allah’.

Pada masa ini banyak orang menjadi ‘penyembah berhala’! Begitu banyak orang lebih memikirkan keuntungan dari pada melayani Allah dengan baik. Seorang yang ‘tamak’ bagaikan seekor babi, yang mencari makanannya di dalam lumpur, tanpa peduli dari mana asal makanan itu. Ia menjadikan hasrat pemuas diri sebagai allahnya. Ia seolah tercebur ke dalam sungai, tetapi mati kehausan di sana. Tentu ini akan aneh jadinya, jika kita sebagai ciptaan Allah melupakan penciptanya.

Oleh karena itu, janganlah kita menjadi seperti babi yang tamak. Ia selalu memandang ke bawah untuk mencari dan memuaskan hasrat pribadi. Tetapi hendaknya kita memandang ke atas untuk melihat kehendak Allah yang sesungguhnya. Bacaan Injil hari ini kembali mengingatkan kita, supaya lebih melihat “Allah yang hadir” dalam setiap tugas dan karya kita. Percumalah jika kita melakukan banyak hal tetapi tidak berkenaan kepada-Nya.

Banyak orang bertanya kepada Yesus: “Mengapa murid-murid Yohanes dan murid-murid orang Farisi berpuasa, tetapi murid-murid-Mu tidak?” Bagi Yesus pertanyaan ini adalah keliru, karena tidak mungkin seorang berpuasa sedang mempelainya ada di sampingnya!

Tidak pantaslah kita menangis karena menunggu seseorang, sedangkan orang itu ada di samping kita. Yesus mengajak kita untuk membuka hati dan pikiran pada kehendak Allah. Yesus menginginkan kita untuk senantiasa dekat dengan-Nya. Setiap aktivitas hendaknya mengatasnamakan Tuhan. Kita bebas menentukan sikap. Tetapi pertanyaannya, apakah sikap kita itu sungguh berkenaan pada kehendak Tuhan? Allah selalu membuka Diri-Nya dan mengulurkan tangan-Nya bagi kita.

(Fr. Andre F. Talia)

“Tetapi waktunya akan datang mempelai itu diambil dari mereka, dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa. (Mrk. 2:20).

Marilah berdoa:

Ya Tuhan, jadikanlah aku pencinta kehendak-Mu, sehingga aku bisa berjalan tanpa takut jatuh ke dalam jurang kekelaman. Amin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here