”Belas Kasih”: Renungan, Kamis 16 Januari 2020

1
1661

Hari Biasa (H)

1 Samuel. 4:1-11; Mzm. 44:10-11,14-15,24-25; Mrk. 1:40-45

Belas kasih merupakan sebuah sikap dalam hidup. Sikap hidup yang didasarkan pada tiga hal, yakni melihat, tergerak dan bertindak. Semuanya diawali dengan melihat. Melihat orang lain dalam keunikan dan martabatnya. Melalui aktivitas melihat, kita kemudian menjadi tergerak karena orang lain dan perlahan membiarkan orang lain masuk dalam hati kita. Kemudian, secara perlahan-lahan pula mulai menunjukkan rasa belas kasih kita melalui sikap atau tindakan.

Namun, di masa sekarang banyak orang yang lupa akan makna belas kasih. Mengapa? Karena kebanyakan orang di masa sekarang adalah orang-orang egois yang tidak peduli dengan orang lain. Padahal sikap belas kasih selalu berkaitan dengan sikap solider dan tidak egois kepada sesama.

Ketidakpedulian juga secara implisit diungkapkan dalam bacaan pertama. Namun, ketidakpedulian di sini tidak ditujukan kepada manusia. Melainkan kepada Allah oleh bangsa Israel. Mengapa? Hal ini dikarenakan bangsa Israel meyakini bahwa Allah sengaja membiarkan mereka kalah dari bangsa Filistin. Padahal bangsa Israel telah berseru-seru dengan nyaring memohon perlindungan kepada Allah.

Apakah benar bahwa Allah tidak peduli atau mungkinkah Allah menahan belas kasih-Nya kepada bangsa Israel? Tentunya tidak.  Ada kalanya Allah tidak menolong dengan tujuan membuat kita semakin kuat, tahan uji dan tahan banting. Selain itu, melalui ketidakpedualian-Nya, Allah menguji kita untuk melihat sejauh mana kesetiaan kita kepada-Nya.

Berbanding terbalik dengan pengalaman bangsa Israel ini, dalam Injil sesungguhnya Yesus secara nyata menunjukkan belas kasih itu, dengan menyembuhkan seseorang yang sakit kusta. Mulai dengan melihat orang tersebut, kemudian tergerak oleh belas kasihan kepada orang itu, sehingga Ia pun mengambil sebuah sikap atau tindakan penyembuhan. Hal ini mau menunjukkan bahwa Allah adalah sumber kasih. Melalui Dialah, kita dapat melihat bagaimana kasih itu tersalurkan secara nyata dalam kehidupan.

Maka, sebagai pengikut-Nya, kita dituntut untuk dapat berbuat sama seperti Dia. Dengan mulai menanamkan dan menumbuhkan rasa solidaritas atau kepedulian terhadap sesama di dalam hati. Dengan demikian, saat melihat orang lain menderita, secara spontan kita tergerak untuk bertindak menolong orang tersebut. 

 (Fr. Stanis Laritmas)

“Maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan, lalu Ia mengulurkan tangan-Nya, menjamah orang itu dan berkata kepadanya: “Aku mau, jadilah engkau tahir” (Mrk. 1:41)

Marilah berdoa:

Ya Tuhan, ajarlah aku menjadi pribadi yang peduli terhadap sesama. Amin.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here