Refleksi: “Sahabat Dalam Panggilan”

0
440

Sewaktu saya masih duduk di bangku SMA, tak pernah terlintas di benakku untuk masuk seminari atau menjadi calon imam. Setelah menyelesaikan pendidikan di bangku SMA, saya kemudian tinggal bersama dengan seorang pastor dan dua orang frater di suatu pastoran. Saya mempunyai banyak waktu bersama dengan pastor ketika melakukan pelayanan. Dalam banyak pengalaman, orang sering memanggil saya frater. Saya tertawa kecil dalam hati karena nyatanya saya bukan frater.

Setelah melalui waktu kurang lebih satu tahun bersama pastor, saya dengan penuh kesadaran akhirnya memutuskan untuk masuk seminari. Saya mengurus segala sesuatunya seorang diri. Hari untuk masuk seminari pun tiba. Para seminaris lain datang bersama anggota keluarga untuk menunjukkan betapa besar harapan dan motivasi mereka. Sementara saya mulai merasa ragu. Mungkinkah dukungan ala kadarnya ini membuat saya mampu menjalani panggilan ini?

Perlahan saya mulai terbiasa dengan pilihan hidup menjadi calon imam. Jika ditanya, perasaan saya pada saat itu adalah sangat kesepian. Bagaimana tidak, saya seperti anak manusia yang baru dilahirkan. Saya seperti hidup dalam dunia yang baru. Berada di antara orang baru dan aturan hidup harian serta rutinitas yang cukup membosankan. 

Seiring berjalannya waktu, saya kemudian menemukan jawaban atas persoalan persoalan yang saya alami, yakni kehadiran sahabat. Semakin lama hidup di seminari semakin banyak juga warna-warni persoalan yang dialami. Entah itu hal dari luar atau dalam diri seperti keluarga, relasi, tugas kuliah dan hal lain yang kadang menciptakan kelemahan dalam diri. Dalam situasi ini saya kembali sadar betapa besar peran seorang sahabat dalam menjalani panggilan. Ketika saya merasa sendiri, bosan, ragu, dan takut sahabat menjadi penghibur, penguat dan motivator bagi saya.

Ketika kita menjalani panggilan yang sangat mulia apapun itu bentuknya pasti ada banyak persoalan yang bisa terjadi. Seorang sahabat memang hanyalah mausia biasa, namun kehadiran seorang sahabat adalah hal yang sangat luar biasa. Banyak orang berharap dapat memiliki sahabat yang baik atau sahabat sejati, tetapi mereka seringkali lupa apakah mereka telah menjadi sahabat yang baik bagi orang lain.

Maka itu, jika kita belum menemukan dia yang kita butuhkan sebagai sahabat sejati, berusahalah untuk membangkitkan kehadirannya dengan sikap kita yang baik terhadap sesama. “Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu dan menjadi seorang saudar dalam kesukaran” (Ams. 17:17).

(Fr. Suprianus Doliti)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here