“Ketaatan yang Menyucikan”: Renungan, Minggu 12 Januari 2020

0
474

Pesta Pembaptisan Tuhan (P)

Yes. 42:1-4,6-7; Mzm. 29:1a,2,3ac-4,3b,9b-10; Kis.10:34-38; Mat. 3:13-17

Pembaptisan Yesus menyatakan ketaatan-Nya pada rencana Allah. Hari ini Gereja berpesta agar peristiwa itu dihadirkan secara nyata dalam hidup kaum beriman. Sehingga kaum beriman dapat belajar untuk  hidup dengan baik dan benar seturut kehendak dan perintah Allah, Sang pemilik hidup manusia. 

Peristiwa Pembaptisan Yesus oleh Yohanes Pembaptis adalah saat Allah mengumumkan martabat dan tugas perutusan Yesus. Dalam peristiwa itu Yesus dinyatakan di depan orang banyak sebagai Anak yang dikasihi Allah dan yang diurapi dengan kuasa Roh. Dialah Mesias yang akan datang untuk membaptis manusia dengan kuasa Roh Kudus.

Sebagai anak yang terkasih, Yesus adalah Dia yang selalu mendengarkan Sabda Bapa dan setia melakukan pekerjaan-Nya. Menjalankan rencana dan kehendak Allah menjadi kebiasaan, kesukaan dan kebajikan hidup-Nya. Ketaatan pada kehendak dan ketekunan melakukan pekerjaan Allah, itulah makanan-Nya yang utama. Mencintai kehendak Bapa dan melaksanakan Firman-Nya menjadi kebajikan hidup-Nya. Dengan cara demikian Ia menjadi Mesias, Pemimpin kepada Hidup. Hidup dan karya-Nya menjadi kesaksian dan pembelajaran tentang kebenaran hidup. Manusia yang benar menjalani hidupnya dalam ketaatan dan kesetiaan pada kehendak dan rencana Bapa.

Dalam Gereja dan masyarakat, ada kewajiban untuk ditaati oleh setiap anggota. Namun ada tuntutan yang diilhami oleh Roh Kudus dan ada juga yang berasal dari roh jahat. Roh Kudus mempersatukan manusia dengan Allah dan sesama, sedangkan roh jahat memecah belah, mendiskriminasi dan mencerai-beraikan. Orang beriman perlu melihat dan menguji setiap tuntutan manusia dalam kesesuaiannya dengan kehendak Allah. Dengan menerima baptisan oleh Yohanes, Yesus mengajarkan bahwa yang menyelamatkan dan menyucikan atau yang menyatukan manusia dengan Allah dan sesamanya, hanyalah ketaatan pada kehendak Allah. Kita harus lebih taat kepada Allah daripada kepada manusia.

Kehendak Allah menjadi ukuran untuk menaati atau menolak setiap tuntutan atau aturan. Itulah sebabnya, Janji Baptis menuntut penolakan setan. Karena menjadi anak Allah berarti menolak setan dan memerangi segala yang jahat baik dalam diri sendiri, dalam Gereja maupun dalam masyarakat. Yesus yang dibaptis untuk melaksanakan kehendak Allah, memberi pembelajaran dalam menghayati ketaatan sebagai kesaksian iman dan pengenalan serta cinta akan Allah yang benar.  Melalui ketaatan itulah, manusia dapat menjadi suci dan hidup sesuai martabatnya sebagai anak Allah.

(Pst. Julius Salettia, Pr)

“Inilah Anak yang Kukasihi, kepadaNyalah Aku berkenan” (Mat. 3:17b).

Marilah berdoa:

Semoga mendengarkan Firman-Mu menjadi kesukaan hatiku dan melakukan perintah-Mu menjadi kebajikan hidupku. Amin

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here