“Sang Teladan Kerendahan Hati”: Renungan, Sabtu 11 Januari 2020

0
582

Hari biasa sesudah Penampakan Tuhan (P)

1 Yoh. 5:14-21. Maz. 149:1-2,3-4,5,6a,9b; Yoh. 3:22-30

Kerendahan hati merupakan salah satu sikap menyadari kemampuan atau keterbatasan dalam diri, sehingga dengannya seseorang tidaklah mengangku dan tidaklah pula sombong. Sifat ini membuat seseorang tahu membatasi diri pada bidang yang ia ilmui. Kerendahan hati membawa seseorang pada ketentraman dan kedamaian.

Bacaan hari ini mengisahkan tentang sosok teladan kerendahan hati yakni Yohanes. Yohanes memberikan teladan kerendahan hati. Dia mengakui bahwa kehadiran Yesus tidak merasa tersaingi, tetapi justru menunjukkan siapa diri Yesus sebenarnya. Dia benar-benar tunduk dan taat kepada kehendak Allah dan tidak terjebak pada keunggulan yang terdapat padanya.

Yohanes sungguh menyadari bahwa tugas kehadirannya berbeda dengan Yesus. Dia hadir di dunia, hanya untuk mempersiapkan jalan untuk kedatangan Yesus. Tidak bisa dipungkiri bahwa Yohanes dan Yesus memiliki kesamaan yakni dalam hal hidup rohani dan kepemimpinan, akan tetapi dengan rendah hati dan kesadaran dia tetap tunduk kepada kehendak Allah dengan berkata Ia harus semakin besar dan aku semakin kecil.  Dengan demikian Yohanes mau memberikan bukti yang tidak dapat dibantah bahwa manusia dapat tetap loyal kepada Allah walaupun diuji secara habis-habisan.

Di masa milenial ini, kerendahan hati sudah jarang kita temukan. Semuanya itu dibuktinyatakan lewat realitas kehidupan kita sekarang. Pada jaman ini, banyak di antara kita yang berlomba-lomba ingin menjadi yang pertama. Mereka tidak ingin menjadi yang kedua. Mereka ingin menjadi yang pertama untuk bisa dihargai, dipuji, dihormati dengan kemampuan yang mereka miliki. Mereka beranggapan bahwa jika menjadi orang nomor satu, maka mereka dapat melakukan apapun.

Dalam bacaan pertama dilukiskan dengan indah bahwa, ketika orang ingin menjadi yang nomor satu, mereka tidak terlepas dari sikap tinggi diri, sombong, angkuh.  Orang seperti itu ialah orang yang tidak berasal dari Allah atau orang yang berdosa.

Oleh karena itu, bertolak dari pernyataan di atas mengenai kerendahan hati Yohanes, kita diajak oleh Tuhan sendiri untuk hidup meneladani teladan dari Yohanes sendiri. Karena dengan kerendahan hati itulah, kita akan semakin berarti di hadapan Tuhan.

(Fr. Pieter Lermatan)

“Dia harus semakin besar dan aku semakin kecil” (Yoh. 3:30).

Marilah berdoa:

Allah sumber kerendahan hati, jadikalah hatiku seperti hatimu, yang selalu terbuka terhadap siapapun. Amin

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here