“Bersaksi Karena Diselamatkan”: Renungan, Jumat 10 Januari 2020

0
640

Hari Biasa sesudah Penampakan Tuhan (P)

1Yoh. 5:5-13; Mzm. 147: 12-13,14-15,19-20; Luk. 5:12-16

Keselamatan adalah suatu hadiah. Hadiah ini diberikan oleh Allah kepada semua orang. Allah itu sungguh adil. Ia memberikan keselamatan itu menjadi hadiah bagi semua orang tanpa terkecuali. Ia sungguh menerbitkan matahari bukan saja bagi orang benar tapi juga bagi orang yang berdosa.

Bacaan dari Surat Yohanes yang Pertama menegaskan bahwa: “Allah telah mengaruniakan hidup yang kekal kepada kita dan hidup itu ada di dalam Anak-Nya.” Jadi hadiah keselamatan dari Allah ini sesungguhnya sudah diberikannya lewat Yesus yang baru saja kita peringati kedatangan-Nya ke dunia pada hari Natal. Untuk itu kita perlu percaya kepada Yesus dan memberikan kesaksian tentang Dia. Sebab Dialah yang menjadi sarana dan hadiah keselamatan dari Allah bagi kita manusia. Tanpa Dia, keselamatan dari Allah tidak akan sampai kepada manusia.

Allah telah memberikan keselamatan bagi kita secara cuma-cuma. Lalu, apakah dengan begitu kita cukup berdiam diri saja dan bermalas-malasan tanpa melakukan apa-apa lagi. Tentu saja tidak. Lalu, bagaimana sebaiknya kita harus bertindak? Bacaan injil hari ini dengan jelas menunjukkan apa yang perlu kita lakukan selanjutnya setelah menerima keselamatan itu.

Injil Lukas pada hari ini menunjukkan bagaimana sikap seorang yang telah disembuhkan Yesus dari sakitnya. Meskipun dilarang oleh Yesus ia pergi dan memberitakan tentang Yesus kepada banyak orang. Ini merupakan bentuk terima kasihnya karena Yesus telah menyembuhkannya dari sakit kustanya. Nah, apa yang dapat kita contoh dari sikap orang yang disembuhkan oleh Yesus itu? Itulah sikap tahu berterima kasih dan mau berusaha membalas kebaikan hati Yesus dengan memberi kesaksian tentang Dia. Meskipun dikatakan dalam Injil bahwa Yesus melarangnya untuk menceritakan apa yang telah dibuat Yesus bagi-Nya.

Bacaan yang pertama mau mengingatkan kita juga bahwa kita ditugaskan untuk bersaksi tentang Yesus. Dengan bersaksi, kita bukan saja membuka jalan keselamatan bagi kita pribadi namun juga mengajak orang-orang di sekitar kita untuk turut percaya kepada Yesus dan diselamatkan. Keselamatan semakin bernilai, ketika kita juga menghantar orang lain untuk turut serta di dalamnya. Jangan hanya menjadi pasif dan egois sehingga tidak mau membantu orang lain untuk turut menikmati keselamatan itu.

(Fr. Gabriel Billy Runtu)

“Semuanya itu kutuliskan kepada kamu, supaya kamu yang percaya kepada nama Anak Allah, tahu, bahwa kamu memiliki hidup yang kekal” (1Yoh. 5:13).

Marilah berdoa:

Ya Tuhan, bantulah aku agar dengan berani, aku bersaksi tentang Engkau. Amin

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here